Bekam: Tradisi Pengobatan Tua yang Kembali Diminati

  • Oct 30, 2025
  • Abdul Karim
  • Kesehatan

Mentaos-Tangguh (30/10/25) Bekam, atau dalam istilah Arab disebut hijamah, kembali menjadi salah satu terapi kesehatan yang diminati masyarakat Indonesia. Metode pengobatan tradisional ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah dari permukaan kulit menggunakan alat hisap atau cup, dan dipercaya mampu membersihkan racun serta melancarkan peredaran darah.

Pengobatan bekam bukanlah hal baru. Catatan sejarah menunjukkan terapi ini telah dikenal lebih dari 4.000 tahun lalu di peradaban Mesir Kuno, Tiongkok, dan Yunani. Dalam tradisi Islam, bekam bahkan memiliki posisi istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah dengan hijamah (bekam),” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi juga disebutkan pernah melakukan bekam di bagian kepala dan punggung ketika merasa letih.

Kini, bekam berkembang dalam berbagai bentuk seperti bekam kering, bekam basah, bekam api, dan bekam luncur. Setiap jenis memiliki tujuan berbeda, mulai dari relaksasi hingga pembuangan darah kotor.

Dari sisi medis, sejumlah penelitian modern menunjukkan bahwa bekam memiliki efek positif terhadap sirkulasi darah, sistem imun, dan keseimbangan tubuh. Bekam dapat membantu meningkatkan mikrosirkulasi, merangsang produksi sel darah baru, serta menurunkan kadar kolesterol dan asam urat. Beberapa studi juga mencatat adanya efek anti-inflamasi akibat peningkatan pelepasan nitric oxide yang membantu memperlebar pembuluh darah.

Meski begitu, para dokter mengingatkan bahwa bekam harus dilakukan dengan prosedur steril dan oleh terapis bersertifikat. Proses yang tidak higienis berisiko menimbulkan infeksi atau penularan penyakit seperti hepatitis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah memasukkan bekam dalam kategori Traditional and Complementary Medicine (T&CM), yaitu pengobatan tradisional yang diakui sebagai pelengkap terapi medis modern.

Dengan perpaduan antara nilai sejarah, ajaran agama, dan temuan ilmiah, bekam kini menempati posisi unik: bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga bagian dari upaya masyarakat modern mencari kesehatan secara holistik.

Pemkot Banjarbaru cq Dinas P3AMP2KB bekerja sama dengan  Tim Penggerak PKK Kota Banjarbaru, Perkumpulan Bekam Indonesia, Pengda Kalimantan Selatan, serta Pondok Herbal Dokter Nabila, secara kreatif mengembangkan keterampilan Bekam melalui pemberian pelatihan kepada warganya. Minggu lalu sebanyak 40 warga kota Banjarbaru dari 20 kelurahan diwisuda. Dua orang diantaranya adalah warga Mentaos yaitu ibu Fatmasari dan Ibu Siti Fatimah. Ibu Fatmasari termasuk 5 lulusan terbaik.

Baca jug : BERITA TERKAIT  : Perempuan Banjarbaru Menuju Kemandirian, Wisuda Life Skill Massage dan Bekam

Jurnalis KIM Tangguh menemui ibu Fatmasari di kediaman beliau di bilangan RT 2 RW II Sumber Indah Kelurahan Mentaos. Beliau menyampaikan rencana selanjutnya yaitu mempraktekkan keterampilan mem-Bekam. Dengan pengalaman mem-Bekam 30 orang saat magang ibu Fatmasari cukup percaya diri untuk buka praktek.

“tapi saya harus mengikuti sertifikasi lebih dulu sebelum membuka gerai layanan Bekam” kata Bu Fatma. Sebelum bersertifikat, hanya dibolehkan melayani secara home service. "Untuk melayani customer dengan sistim home service sudah bisa karena peralatan Bekam sudah diberikan oleh Panitia Pelatihan" demikian ungkap bu Fatmasari optimis.

Menurut Kasi Kesos Kelurahan Mentaos ibu Nikmah, hingga saat ini sudah ada 4 (empat) warga Kelurahan Mentaos yang mendapatkan pelatihan dan lulus sebagai terafis Bekam yaitu ibu Mustatik, Ibu Arumaya, Ibu Siti Fatimah dan Ibu Fatmasari. Semoga dalam waktu dekat akan hadir terafis Bekam berjenis kelamin laki-laki.

Foto bawah : Wawancara Jurnalis KIM dengan Ibu Fatmasari didampingi Ketua RT 02/II Suyanto

Foto atas : Para wisudawati Pelatihan Message dan Bekam (sumber : https://mediacenter.banjarbarukota.go.id