Interupsi!!!
- May 23, 2026
- Abdul Karim
- Literasi
Interupsi Pimpinan!!!, kalimant ini paling sering terdengar di ruang rapat DPR yang diucapkan oleh peserta rapat ketika ada orang lainnya yang sedang berbicara. Maka jadilah anggapan umum bahwa interupsi itu adalah sebuah tindakan menyela pembicaraan orang lain. Karena hal seperti itulah yang sering disaksikan.
Padahal dalam etika komunikasi, bentuk interupsi jauh lebih luas daripada sekadar menyela ucapan. Sikap tidak fokus, bermain handphone, berbicara sendiri, atau menunjukkan ekspresi tidak peduli ketika seseorang sedang berbicara juga termasuk bentuk interupsi yang dapat merusak kualitas komunikasi.
Saat seorang narasumber berbicara di forum, rapat, pengajian, kelas, atau diskusi masyarakat, sebenarnya ia sedang memberikan perhatian, waktu, pikiran, bahkan energi kepada para pendengar. Ketika ada peserta yang sibuk bermain telepon genggam, bercakap-cakap sendiri, tertawa di luar konteks, atau keluar masuk ruangan tanpa alasan penting, situasi tersebut bukan hanya mengganggu konsentrasi pembicara, tetapi juga mengurangi penghormatan terhadap forum itu sendiri.
Dalam perspektif etika sosial, komunikasi bukan sekadar proses berbicara dan mendengar, melainkan proses saling menghargai. Mendengar dengan sungguh-sungguh adalah bentuk penghormatan kepada orang lain. Sebaliknya, sikap acuh tak acuh memberi pesan psikologis bahwa apa yang disampaikan pembicara dianggap tidak penting.
Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital. Handphone yang awalnya alat bantu komunikasi justru kadang menjadi penghalang komunikasi langsung. Tidak sedikit orang hadir secara fisik dalam sebuah forum, tetapi pikirannya sibuk di media sosial, membaca pesan, menonton video, atau membalas percakapan lain. Akibatnya, budaya mendengar mulai melemah.
Padahal kemampuan mendengar adalah salah satu ciri masyarakat yang beradab. Banyak konflik dalam keluarga, perkumpulan, komunitas, organisasi, bahkan pemerintahan terjadi bukan karena semua orang tidak bisa berbicara, tetapi karena terlalu sedikit orang yang mau mendengar dengan baik.
Dalam dunia pendidikan, perilaku bermain handphone ketika guru atau dosen menjelaskan materi juga menjadi tantangan serius. Ini bukan hanya masalah disiplin, tetapi menyangkut pembentukan karakter dan etika menghargai ilmu. Demikian pula dalam kegiatan masyarakat, ketika warga berbicara sendiri saat ada sambutan atau sosialisasi, sebenarnya kualitas penghormatan sosial sedang mengalami penurunan.
Islam sendiri mengajarkan adab mendengar. Dalam banyak majelis ilmu, umat diajarkan untuk diam dan memperhatikan ketika seseorang berbicara. Bahkan dalam Al-Qur’an terdapat perintah untuk mendengarkan dengan baik ketika ayat suci dibacakan. Ini menunjukkan bahwa mendengar adalah bagian dari akhlak.
Karena itu, membangun etika komunikasi harus dimulai dari kesadaran sederhana menghargai orang yang sedang berbicara, memberi perhatian penuh, tidak sibuk sendiri, tidak memotong fokus forum, dan menjaga suasana tetap kondusif. Lebih-lebih kalau yang sedang berbicara itu adalah seorang ustadz alim ulama yang sedang memberikan tausiah dalam majelis ta’lim.
Komunikasi yang sehat bukan hanya ditentukan oleh kepandaian berbicara, tetapi juga oleh kedewasaan dalam mendengar.