Mendorong Literasi Digital dan Peran Keluarga
- Mar 08, 2026
- Abdul Karim
- Literasi
Keterangan : Foto kreasi oeh kecerdasan buatan
Mentaos-Tangguh (8-3-26) Kebijakan pembatasan digital untuk anak hingga berusia 16 tahun terkesan represif. "Mungkin di awal akan terasa tidak nyaman" Kata Meutia Hafid Menteri Komdigi. Anak-anak pasti akan keberatan karena mengubah kebiasaan yang menyenangkan tidak lah gampang. Oleh karena itu maka pembatasan akun media sosial harus diiringi dengan penguatan literasi digital, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Apabila Ketua RT jadi ujung tombak memberikan literasi kepada orang tua, maka orang tua menjadi garda terdepan dalam mendampingi anak menghadapi dunia digital. Pengawasan yang bijak, komunikasi terbuka, serta pemberian contoh penggunaan teknologi yang sehat akan menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini. Maka ada dua PR sekaligus. Memberikan literasi kepada orang tua dan memberikan literasi kepada anak. Dari pengalaman dan observasi, banyak orang tua merasa confort dengan membiarkan anak-anak main internet, sehingga kebijakan pemerintah ini tidak mustahil mendapat resistensi sebagian orang tua.
Di sisi lain, sekolah dan komunitas juga perlu mengambil peran aktif dalam memberikan pendidikan literasi digital kepada anak-anak. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk memahami etika bermedia, menjaga privasi digital, serta menggunakan teknologi secara produktif.
Menyiapkan Generasi Digital yang Sehat
Kebijakan pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun sejatinya bukanlah upaya menjauhkan anak dari teknologi. Justru sebaliknya, kebijakan ini bertujuan untuk menyiapkan generasi digital yang lebih matang, sehat, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.
Di usia yang lebih dewasa, anak-anak akan memiliki kemampuan berpikir yang lebih kritis, kontrol diri yang lebih baik, serta kesiapan mental untuk menghadapi kompleksitas dunia digital.
Dengan demikian, kebijakan ini dapat dipandang sebagai bentuk investasi sosial jangka panjang. Negara berupaya memastikan bahwa generasi muda Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu menjadi pengguna yang cerdas dan produktif