Rubik’s Cube Pengganti Handphone Anak
- Mar 14, 2026
- Abdul Karim
- Literasi
Keterangan : Foto Rubik's Cube diunduh dari Wikipedia
Kebijakan pemerintah yang membatasi atau menutup akses akun media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun merupakan langkah penting dalam melindungi generasi muda dari berbagai risiko dunia digital. Paparan konten yang tidak sesuai usia, kecanduan layar, cyberbullying, hingga gangguan konsentrasi belajar menjadi alasan kuat mengapa pengawasan penggunaan media sosial pada anak perlu diperketat.
Pemerinah, cq Kementerian Komunikasi dan Digital di berbagai forum mengemukakan dengan serius bahwa akun media sosial anak di bawah usia 16 tahun akan dibatasi (dihapus). Rencana yang akan dieksekusi 28 Maret 2026 ini sangat serius, tidak main-masin karena sudah menjadi peraturan perundang-undangan. Jutaan anak akan kehilangan mainannya. Tentu ini menjadi masalah besar.
Maka muncul pertanyaan bagaimana anak-anak mengisi waktu luang mereka setelah akses media sosial dibatasi? Jika tidak diimbangi dengan aktivitas alternatif yang menarik, anak justru berpotensi mencari bentuk hiburan lain yang tidak selalu positif.
Jurnalis KIM Tangguh melakukan riset dan mengingat-ingat masa lalu. Di tahun 80-an ada suatu permainan yang unik namanya permainan Rubik’s Cube.
Rubik’s Cube adalah permainan teka-teki tiga dimensi yang menantang pemain untuk menyusun kembali warna-warna pada setiap sisi kubus agar menjadi seragam. Meski terlihat sederhana, permainan ini sebenarnya melatih berbagai kemampuan kognitif anak.
Bagi anak-anak, Rubik’s Cube bukan sekadar permainan, tetapi juga sarana belajar yang menyenangkan. Ketika mencoba menyelesaikan kubus yang teracak, anak akan berpikir tentang pola, strategi, dan urutan langkah yang tepat. Proses ini melatih kemampuan logika, konsentrasi, dan pemecahan masalah.
Berbeda dengan media sosial yang cenderung membuat anak menjadi konsumen pasif informasi, menurut literatur Rubik’s Cube mendorong anak untuk aktif berpikir dan bereksperimen.
Salah satu nilai penting dari permainan Rubik’s Cube adalah kesabaran. Anak tidak bisa menyelesaikan kubus secara instan. Mereka harus mencoba, gagal, belajar dari kesalahan, dan mencoba kembali.
Proses ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dengan cepat, tetapi membutuhkan latihan dan ketekunan. Nilai seperti ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak. Dalam dunia digital yang serba cepat dan instan, permainan seperti Rubik’s Cube membantu anak memahami bahwa proses belajar membutuhkan waktu dan usaha.
Memasyarakatkan permainan baru membutuhkan proses, usaha keras dan tentu saja biaya. Namun tantangan itu pasti ada solusi selama kita semua bersedia bekerja sama.