Stunting dan Masa Depan Bangsa
- Mar 12, 2026
- Abdul Karim
- Literasi
Stunting tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga sangat erat hubungannya dengan perilaku hidup sehat dalam keluarga dan masyarakat. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pola hidup dan kebiasaan sehari-hari memiliki peran penting dalam menentukan kondisi gizi anak.
Perilaku hidup sehat yang berpengaruh terhadap pencegahan stunting antara lain: Pertama, pola makan yang bergizi seimbang. Anak membutuhkan asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup sejak dalam kandungan hingga usia balita. Kekurangan nutrisi dalam jangka panjang akan menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.
Kedua, sanitasi dan kebersihan lingkungan. Lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko infeksi, seperti diare dan penyakit pencernaan lainnya. Penyakit tersebut menyebabkan penyerapan gizi menjadi tidak optimal, sehingga anak mengalami kekurangan nutrisi meskipun asupan makanan cukup.
Ketiga, akses terhadap pelayanan kesehatan. Pemeriksaan kehamilan secara rutin, imunisasi, serta pemantauan tumbuh kembang anak di Posyandu merupakan langkah penting dalam mendeteksi dan mencegah stunting sejak dini.
Keempat, perilaku keluarga yang sehat. Kebiasaan mencuci tangan, penggunaan air bersih, tidak merokok di dalam rumah, serta pemberian ASI eksklusif merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan ibu dan anak.
Dengan kata lain, stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi juga masalah perilaku hidup sehat dalam keluarga dan masyarakat.
Pemerintah Kota Banjarbaru punya prioritas tinggi terhadap stunting ini. Ketua TP PKK Kota Riandy Hidayat beberapa waktu lalu menyampaikan kepada Jurnalis KIM Tangguh bahwa Pemerintah Kota punya beberapa prioritas pembangunan saat ini, salah satu diantaranya adalah penurunan angka stunting.
Mengingat stunting adalah resultante dari banyak variable, maka hal-hal strategis yang perlu ditangani tidak hanya sekedar perbaikan gizi dan ukuran tinggi badan, melainkan mencakup masalah perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat yang biasanya diukur dengan 10 perilaku yaitu Persalinan dibantu tenaga medis, Memberi ASI eksklusif, Menimbang Balita secara berkala, Menggunakan air bersih, Mempunyai jamban sehat, Mencuci tangan pakai sabun, Mengonsumsi buah dan sayur, Memberantas jentik, Melakukan kegiatan fisik, dan Tidak merokok di dalam rumah.
Pemerintah memasilitasi dengan berbagai sarana/prasarana untuk mendorong terciptanya perilaku hidup bersih dan sehat, antara lain adanya tenaga medis, Posyandu atau Posyandu ILP, mendidik kader-kader PHBS, Kader Jentik, Penyuluh KB dan lain-lain. Juga dengan cara mengadakan lomba antara lain Lomba Germas, Lomba PHBS, Lomba STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).
Suksenya program pencegahan stunting memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga pemerintah. Namun, keluarga tetap menjadi garda terdepan dalam memastikan anak mendapatkan nutrisi yang cukup dan lingkungan yang sehat.
Peran masyarakat juga sangat penting, terutama melalui kegiatan Posyandu, program kesehatan lingkungan, serta edukasi mengenai pola hidup sehat. Kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya gizi dan kesehatan anak akan sangat menentukan keberhasilan upaya penurunan stunting.
Tak dapat dipungkiri peran tokoh masyarakat, tokoh agama, dan khususnya Ketua RT di lingkungan masing-masing sangat penting, karena Ketua RT-lah lini terdepan Pemerintah yang bersentuhan langsung dengan para ibu-ibu dan kepala keluarga. Ketua RT harus punya data dan informasi rumah tangga yang punya balita, ibu-ibu yang sedang hamil dan menyusui guna mengingatkan jadwal timbang balita dan lain-lain.
Stunting memiliki dampak jangka panjang yang sangat serius terhadap kualitas sumber daya manusia. Anak yang mengalami stunting berpotensi mengalami gangguan perkembangan kognitif, penurunan kemampuan belajar, serta keterbatasan dalam produktivitas kerja ketika dewasa.
Penelitian menunjukkan bahwa stunting dapat menurunkan kemampuan intelektual anak dan berdampak pada prestasi pendidikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas tenaga kerja dan daya saing suatu bangsa.
Oleh karena itu, stunting tidak hanya menjadi masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi tantangan pembangunan nasional. Negara dengan tingkat stunting yang tinggi berisiko mengalami keterbatasan kualitas sumber daya manusia di masa depan. (diolah tim redaksi dari berbagai sumber)