Wara' Era Digital
- May 29, 2026
- Abdul Karim
- Dakwah
Dalam kehidupan modern yang penuh dengan godaan materi, sifat wara’ menjadi sesuatu yang semakin langka. Padahal para alim ulama sejak dahulu menjadikan wara’ sebagai salah satu pondasi utama dalam menjaga kemurnian iman dan kehormatan diri. Secara sederhana, wara’ berarti sikap hati-hati dalam perkara halan dan haram, serta menjauhi suatu yang syubhat atau meragukan.
Para ulama besar dikenal bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga karena kehati-hatian mereka dalam menjaga diri. Mereka takut makanan yang tidak jelas asalnya, harta yang bercampur syubhat, jabatan yang menimbulkan kezaliman, bahkan ucapan yang dapat melukai orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”(HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi dasar penting sifat wara’.
Para ulama memahami bahwa hati manusia sangat mudah menjadi gelap apabila terlalu dekat dengan perkara yang meragukan. Imam Abu Hanifah dikenal sangat berhati-hati dalam urusan harta. Beliau pernah menolak keuntungan bisnis yang dianggap bercampur dengan syubhat meskipun nilainya besar. Imam Nawawi hidup sangat sederhana dan menjaga dirinya dari fasilitas yang bukan haknya.
Di zaman sekarang, sifat wara’ justru semakin penting. Karena manusia hidup di tengah arus informasi yang tidak jelas, transaksi ekonomi yang bercampur, budaya fitnah media sosial, dan gaya hidup yang serba bebas. Sifat wara’ diperlukan agar seseorang berhati-hati dalam berbicara, tidak mudah menyebar berita bohong, menjaga kehalalan rezeki, serta tidak mengambil hak orang lain.
Orang yang wara’ biasanya hidup lebih tenang. Karena ia tidak rakus terhadap dunia. Ia lebih memilih rezeki sedikit tetapi halal,daripada banyak tetapi meragukan. Sikap seperti ini melahirkan keberkahan hidup. Mungkin tidak selalu kaya secara materi, tetapi hatinya damai.
Sifat wara’ juga menjaga kehormatan diri. Orang yang wara’ akan berpikir berkali-kali sebelum menerima sesuatu, berkata kasar, menyakiti orang, atau mengambil keuntungan yang tidak jelas. Inilah sebabnya mengapa para alim ulama sangat dihormati masyarakat. Bukan hanya karena luas ilmunya, tetapi karena akhlaknya yang penuh kehati-hatian dan rasa takut kepada Allah.
Di tengah kehidupan yang serba instan dan materialistik, sifat wara’ adalah cahaya yang menjaga hati manusia agar tidak mudah tergelincir. Wara’ mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan, tidak semua yang menguntungkan layak diambil, dan tidak semua yang terlihat halal benar-benar membawa keberkahan.
Demikian intisari dari ceramah KH Shihabuddin, Lc di Langgar Al Munawarah RT 02/RW IV Mentaos, Senin 26 Mei 2026. Bahkan Guru Shihab menceritakan ada seorang ulama besar yang harus menempuh perjalanan berbulan-bulan untuk mengembalikan sebuah pena orang lain yang tidak sengaja terbawa oleh ulama tersebut.
Keterangan Foto : KH Shihabuddin, Lc