Bahasa Banjar di Persimpangan Zaman?

  • Oct 11, 2025
  • Abdul Karim
  • Literasi

Bahasa Banjar adalah cermin jiwa urang Banua. Di tengah derasnya arus informasi dan budaya global, semakin sedikit anak muda yang menggunakan bahasa Banjar dalam percakapan sehari-hari. KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) melihat situasi ini sebagai panggilan untuk bertindak — bukan sekadar bernostalgia, tapi menghidupkan kembali bahasa Banjar lewat ruang-ruang komunikasi yang modern dan kreatif.

Bahasa Banjar dulunya menjadi bahasa utama di pasar, rumah, hingga lembaga pemerintahan di Kalimantan Selatan. Namun, kini makin banyak generasi muda yang beralih ke bahasa Indonesia bahkan bahasa gaul media sosial. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan — menurut sejumlah pemerhati budaya, bahasa daerah yang tidak digunakan secara aktif berpotensi hilang dalam dua atau tiga generasi.

Di internet ada satu situs yang cukup baik yaitu https://basakalimantanwiki.org di sini ada kamus basa banjar dengan koleksi kosa kata cukup banyak. Terdapat sejumlah kata yang sudah tidak pernah digunakan pada percakapan sehari hari. Ternyata jumlahnya cukup banyak.

Kemaren (10/10/25), dalam rangka memeriahkan Bulan Oktober sebagai bulan Bahasa, KIM Tangguh mengadakan sosialisasi keberadaan situs tersebut agar lebih dikenal masyarakat yang tertarik untuk melestarikan bahasa Banjar.  Di situs itu ada menu yang menyediakan entry kata baru bahasa Banjar. Masyarakat dapat berpartisipasi untuk menambah kosa kata dalam kamus basa Banjar yang ada di situs tersebut.

Peserta sosialisai dengan antusias mengikut paparan Ketua KIM Tangguh. Dr Murjani, Sekretaris KIM Tangguh menyatakan :“Kami ingin anak muda bangga berbahasa Banjar. Bisa lewat video pendek, cerita rakyat digital, atau podcast lokal,” ujar sidin. 

Jurnalis KIM menghubungi beberapa tokoh pendidikan di Banjarbaru. Di dapat info bahwa basa Banjar jadi program muatan lokal di Sekolah Dasar. Di SMP tidak diajarkan, begitu juga di SMA.

Banyaknya program atau kurikulum di sekolah menengah mungkin menjadi penyebab basa banjar tidak mendapat tempat dalam program muatan lokal. Maka kekosongan itu harus diisi dengan cara lain. Disinilah peran komunitas di masyarakat dibutuhkan. Dengan cara dan stimulus yang  kreatif  basa Banjar menjadi tetap dicintai, digunakan serta semakin dikembangkan. Dapat saja dalam bentuk loba vlog basa banjar, lomba pantun basa banjar, dan lain sebagainya.

Melestarikan bahasa Banjar bukan sekadar menjaga kata, tetapi juga menjaga cara berpikir dan rasa kebersamaan urang Banua. Di era digital, identitas daerah bisa tetap hidup bila masyarakat memanfaatkannya dalam ruang online,  mulai dari caption media sosial, nama usaha lokal, hingga konten edukatif. Cafe-cafe di Banjarbaru kebanyakan menggunakan nama bahasa Indonesia, bahkan cenderung bahasa asing. Masih sedikit yang menggunakan bahasa Banjar. Misalnya nama cafe "kupikah gulu" belum terlihat.

Bahasa Banjar adalah bagian dari jati diri yang tak tergantikan. Mari bersama KIM, pemerintah, dan masyarakat menjaga agar bahasa Banjar tetap hidup di hati dan di dunia digital. Mun kada kita, sapa lagi? Mun kada damini, pabila lagi?

keterangan : Peserta sosialisasi situs basa banjar (foto : 3kurnia1)