Sombong Berasal Dari Hati

  • May 22, 2026
  • Abdul Karim
  • Dakwah

Mentaos-Tangguh (22/5/26) “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka tampakkan. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong.”(QS. An-Nahl ayat 23). Ayat ini sangat dalam maknanya, karena menunjukkan bahwa Allah mengetahui kesombongan yang tersembunyi di dalam hati manusia. Hadis Nabi Muhammad SAW : Rasulullah SAW bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”HR. Muslim. Ketika ada sahabat bertanya tentang orang yang suka pakaian bagus dan sandal bagus, Rasulullah SAW menjelaskan “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”HR.Muslim

Manusia sering menilai kesombongan hanya dari apa yang tampak di luar. Ada orang dianggap sombong karena cara berpakaian, kendaraan mewah, jabatan tinggi, atau gaya bicara tertentu. Padahal dalam ajaran Islam, letak utama kesombongan bukan pertama-tama pada penampilan lahiriah, melainkan pada kondisi hati.

Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia lain. Artinya, kesombongan itu tumbuh dari dalam jiwa. Ia bisa tersembunyi rapi di balik wajah sederhana, pakaian biasa, bahkan ucapan yang terlihat santun.

Ada orang yang hidup sederhana tetapi merasa dirinya paling suci, paling benar, dan paling layak dihormati. Ada pula orang yang terlihat kaya dan berpenampilan baik namun tetap rendah hati, mudah menghargai orang lain, dan mau menerima nasihat. Dari sini kita belajar bahwa ukuran sombong tidak selalu bisa dibaca dari penampilan luar.

Kesombongan hati biasanya muncul dalam beberapa bentuk merasa paling pintar, sulit menerima kritik, senang dipuji, tidak suka melihat orang lain berhasil, merasa dirinya lebih mulia, atau memandang rendah orang lain karena status sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan ibadah.

Penyakit hati seperti ini sangat berbahaya karena sering tidak disadari oleh pemiliknya sendiri. Semakin tersembunyi kesombongan itu, terkadang justru semakin sulit diobati.

Di zaman sekarang, kesombongan bahkan bisa tumbuh melalui media sosial. Orang berlomba memperlihatkan pencapaian, kekayaan, popularitas, bahkan ibadahnya. Tidak semua salah, tetapi hati harus terus dijaga agar tidak berubah menjadi rasa ingin dipuji dan merasa lebih hebat dibanding orang lain.

Karena itu Islam mengajarkan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri. Jangan terlalu sibuk menilai siapa yang tampak sombong di depan mata, tetapi sibuklah dengan hati sendiri. Bisa jadi lidah kita lembut, pakaian sederhana, tetapi hati diam-diam dipenuhi rasa lebih tinggi daripada orang lain.

Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan mampu menempatkan diri sebagai hamba Allah yang sama-sama lemah dan bergantung kepada-Nya. Jabatan, ilmu, kekayaan, dan popularitas hanyalah titipan sementara yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali.

Pada akhirnya, Allah tidak melihat rupa dan penampilan manusia, tetapi melihat hati dan amalnya. Maka tugas terbesar setiap manusia bukan hanya memperbaiki tampilan luar, melainkan membersihkan hati dari penyakit sombong yang sering bersembunyi tanpa disadari. (disarikan dari tausiyah KH Shihabuddin, Lc di Langgar Al Munawarah - RT 02/RW IV Mentaos)