Bakurinah menurut tafsir Kecerdasan Buatan
- Apr 19, 2026
- Abdul Karim
- Literasi
Bakurinah adalah istilah khas dalam budaya Banjar (Kalimantan Selatan) yang memiliki makna kaya secara sosial dan kultural. Kata ini tidak sekadar menunjuk pada aktivitas berkumpul, tetapi mencerminkan nilai-nilai hidup bermasyarakat.
Pertama, secara leksikal (makna dasar) berkumpul, duduk bersama, atau bercengkerama dalam suasana santai. Biasanya dilakukan tanpa agenda formal, sekadar berbincang ringan, berbagi cerita, atau mempererat hubungan.
Kedua, dalam makna Sosial bakurinah memiliki fungsi penting yakni Mempererat silaturahmi antarwarga, Media komunikasi informal (bertukar informasi, kabar, bahkan isu lokal), Membangun solidaritas sosial. Bakurinah sering terjadi di teras rumah, warung kopi, atau pos ronda,ruang-ruang sosial yang hidup.
Ketiga, secara Budaya, bakurinah mencerminkan Budaya kolektif (kebersamaan lebih diutamakan daripada individualisme), Nilai keterbukaan (orang bebas berbicara dan didengar), Tradisi lisan (cerita, pengalaman, bahkan nilai-nilai diwariskan lewat percakapan)
Keempat, jika ditarik ke tingkat reflektif, bakurinah bisa dimaknai sebagai Ruang demokrasi kecil masyarakat, tempat opini terbentuk secara organik, Sarana kontrol sosial, isu-isu, perilaku, norma, hingga kebijakan sering dibahas di sini. Energi kohesi sosial menjaga masyarakat tetap “terhubung” secara emosional
Pada Era Digital, Bakurinah bisa bergeser bentuk menjadi grup WhatsApp atau forum online namun, nilai esensialnya tetap sama: interaksi, kepercayaan, dan kedekatan sosial.
Dalam perspektif komunitas seperti KIM Tangguh, bakurinah bukan sekadar kebiasaan, tetapi modal sosial yang sangat berharga. Dari ruang sederhana itu, lahir kesadaran kolektif, solusi lokal, bahkan kekuatan perubahan.