Langkah Cerdas Banjarbaru Dalam Diplomasi Budaya

  • Apr 21, 2026
  • Abdul Karim
  • Literasi

Di tengah geliat diplomasi budaya global, satu pertanyaan penting patut diajukan mengapa Soto Banjar kuliner khas Kalimantan Selatan yang sarat nilai sejarah dan sosial belum mendapatkan pengakuan dari UNESCOPadahal, jika ditelusuri lebih dalam, Soto Banjar bukan sekadar makanan. Ia adalah representasi identitas, ruang interaksi sosial, sekaligus jejak panjang peradaban masyarakat Banjar. Apabila ada hajatan kawinan di banua, dari sederet makanan yang tersaji, dapat dipastikan ada soto Banjar disana. 

Soto Banjar dikenal dengan kuah bening kaya rempah, kayu manis, cengkeh, kapulaga, yang mencerminkan pertemuan budaya lokal dengan pengaruh luar, seperti Arab dan Tionghoa. Namun kekuatannya bukan hanya pada rasa, melainkan pada fungsi sosialnyaDi banyak kampung, Soto Banjar hadir dalam acara hajatan dan pernikahan, kegiatan keagamaan, pertemuan keluarga besar. Ia menjadi medium silaturahmi, simbol kebersamaan, dan bahkan bentuk penghormatan kepada tamu.

Para diaspora Urang Banjar di berbagai kota di luar Kalsel, sering merasa dandaman dengan Soto Banjar. Untungnya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogjakarta, sudah banyak terdapat rumah makan yang menyediakan Soto Banjar. Salah satu yang terkenal di Kota Bandung adalah warung Mama Ading di bilangan Batu Nunggal Bandung.  

Karimata, salah satu mahasiswa Banjar yang pernah kuliah di  Bandung menuturkan warung soto Banjar di Bandung tidak sekedar warung, tetapi tempat riunian urang Banjar di Bandung. “di warung Soto Banjar kami bertemu dengan bubuhan Banjar, disitu kenalan dan tambah banyak teman”  katanya.

Di titik ini, Soto Banjar telah melampaui definisi kuliner biasa. Ia telah menjadi praktik budaya hidup, namun hingga ultah Banjarbaru ke 27 ini Soto Banjar belum dapat pengakuan Gastronomi Unesco.  

Walikota Banjarbaru telah mengambil langkah cerdas untuk mengisi kekosongan itu seperti yang dideklarasikan pada Upacara HUT Kota Banjarbaru kemaren (20/4) agar Soto Banjar masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage (Warisan Budaya Takbenda) dunia.

Langkah awal yang pasti untuk lebih menguatkan adalah lima belas ribu porsi Soto Banjar disajikan untuk warga Banjarbaru di Lapangan Murjani. Antrian panjang yang terjadi adalah indikasi Soto Banjar manjadi idola urang Banjarbaru. Selanjutnya, kewajiban masyarakat Banjarbaru untuk mendukung program ini dengan berbagai cara dan kemampuan masing-masing. Menjadikan menu keluarga, mendalami rahasia rempahnya, mengajarkan kepada anak muda cara membuatnya, dan lain-lain. Sementara Pemerintah mungkin terus berupaya untuk menstimulasi, standarisasi rasa, above the line promotion, edukasi dan literasi, festival Soto Banjar, paket-paket wisata, dan seterusnya.

Soto Banjar lebih dari semangkok soto, ia simbol budaya dan perekat sosial urang banua, yang insya Allah akan mendapat rekognisi dari Badan Dunia UNESCO sejajar dengan Rendang, Gudeg, Washoku (Jepang), Kimchi (Korea), Medeterrenian diet (Eropa Selatan).