Berantas Sampah Sejak Dini
- Feb 20, 2026
- Abdul Karim
- Literasi, Lingkungan Hidup
Bicara masalah sampah, pasti menemukan banyak masalah. Permasalahan sampah tidak hanya soal volume yang terus meningkat, tetapi juga soal keterbatasan fasilitas pengelolaan. Di banyak wilayah, bank sampah masih terbatas jumlahnya, sementara jarak menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) cukup jauh. Akibatnya, sampah sering menumpuk, pengangkutan tidak optimal, dan risiko pencemaran lingkungan semakin besar. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan Reduce, Reuse, Recycle (3R) menjadi solusi yang realistis dan dapat dilakukan langsung oleh masyarakat tanpa harus menunggu fasilitas tambahan.
Reduce (mengurangi) menjadi langkah paling strategis. Ketika jarak TPA jauh dan kapasitas angkut terbatas, mengurangi produksi sampah dari rumah adalah kunci. Membawa tas kain saat berbelanja, menghindari plastik sekali pakai, dan membatasi pembelian barang berkemasan berlebihan dapat secara signifikan menekan volume sampah yang harus diangkut.
Reuse (menggunakan kembali) juga sangat relevan. Dengan menggunakan kembali wadah, botol, atau kantong belanja, kita mengurangi frekuensi pembuangan. Dalam situasi bank sampah yang belum tersedia di setiap lingkungan, memperpanjang umur pakai barang adalah langkah efektif mengurangi timbulan sampah harian.
Sementara itu, Recycle (daur ulang) dapat dimulai dari rumah. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos sederhana menggunakan ember atau komposter. Ini sangat membantu, karena sampah organik biasanya mendominasi timbulan rumah tangga. Dengan mengolahnya sendiri, beban pengangkutan ke TPS atau TPA berkurang drastis. Untuk sampah anorganik, masyarakat dapat mengumpulkannya secara kolektif hingga jumlahnya cukup untuk disalurkan ke bank sampah terdekat.
Keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk menyerah. Justru di tengah jarak TPA atau TPS yang jauh dan minimnya bank sampah, gerakan 3R menjadi semakin penting. Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga dan komunitas.
Jika setiap keluarga menerapkan 3R secara konsisten, volume sampah yang harus diangkut ke TPA akan berkurang signifikan. Lingkungan menjadi lebih bersih, biaya pengangkutan dapat ditekan, dan kesadaran kolektif masyarakat semakin tumbuh.
Bagi warga sekitar Kelurahan Mentaos, wabil khusus warga RT 02 / RW IV Kompleks Palapa Banjarbaru setidaknya masalah recycle tidak jadi problem karena di wilayah ini ada Bank Sampah KAMI yang siap menerima sampah dan menyalurkan ke bank sampah induk untuk di-daur ulang. Loket layanan bank sampah KAMI dibuka reguler setiap hari Minggu jam 08.00 - 10.00. Namun apabila ada nasabah yang ingin setor tabungan sampah di hari lain dapat on call. Bank Sampah KAMI juga melayani mengambilan door to door apabila volume sampah relatif banyak.
Direktur Bank Sampah KAMI sekaligus Ketua RW IV Kelurahan Mentaos Banjarbaru Dr. Murjani menjelaskan kepada jurnalis KIM Tangguh bahwa hingga saat ini sudah terdaftar sekitar 100 orang nasabah. “alhamdulillah setiap minggu ada saja nasabah baru”, Kata Direktur Bank Sampah. Sariyati, bagian penerimaan tabungan menambahkan setelah sekitar 9 bulan beroperasi sudah terkumpul rata-rata sekitar 900 kilo per bulan dengan jumlah nasabah 110 orang. Artinya satu nasabah punya tabungan sekitar 8 kilogram per bulan. Jumlah tersebut masih sangat kecil dibanding produksi sampai Kota Banjarbaru yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPS) sekitar 165 ton perhari. Namun apabila jumlah nasabah dapat dilipatgandakan, misalnya 10% dari penduduk Banjarbaru jadi nasabah bank Sampah tentu angkanya akan beda. Mungkin kah Walikota dapat mewajibkan seluruh ASN Kota Banjarbaru wajib menjadi nasabah Bank Sampah? Mungkinkah Pemkot Banjarbaru dapat memasilitasi di setiap RT ada bank Sampah? Karena melihat sebaran alamat nasabah Bank Sampah KAMI yang berasal dari kelurahan di luar Mentaos menunjukan tanda tanda bahwa bank sampah di kota ini masih langka.
Dr. Taufik Supriadi, Ketua RT 08 RW IV Malaka Jaya Jakarta Timur dalam diskusi di Banjarbaru baru-baru ini menyampaikan bahwa persoalan sampah dapat diselesaikan dengan cara penyelesaian di hulu, yaitu di rumah tangga. Maka perlu dukungan dengan kehadiran bank sampah yang mudah dijangkau.
Dengan membudayakan 3R maka beban TPA akan berkurang signifikan. Hal simpel yang dapat dilakukan ada 3, yaitu pertama ada kesadaran untuk menggunakan tas belanja guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kedua menggunakan komposter untuk memproses makanan sisa menjadi kompos. Ketiga memilah sampah untuk ditabung di bank sampah. Tiga langkah sederhana ini bila dilakukan bersama-sama akan berdampak luar biasa. Ibu Rina warga Mentaos mengaku telah menjalankan ketiga kiat tersebut. “Alhamdulillah sampah yang kami buang berkurang sekitar 50%.” Ujar sidin (beliau).
Masalah sampah adalah masalah yang dihadapi hampir semua kota di Indonesia. Bahkan ada kota tertentu yang sudah mencapai level darurat sampah. Maka kehadiran bank sampah sebagai salah satu ikhtiar menekan volume sampah akan sangat berarti.
Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga persoalan budaya dan tanggung jawab bersama.
Keterangan Foto : Transaksi di loket Bank Sampah KAMI