Hari Jadi ke-27 Banjarbaru: Momentum Menguatkan Gotong Royong Warga

  • Mar 07, 2026
  • Abdul Karim
  • Info Umum

Mentaos-Tangguh (7/3/26) Beredar kabar dari beberapa media mainstream lokal Banjarbaru bahwa Walikota Banjarbaru memimpin langsung rapat persiapan Perayaan hari jadi kota Banjarbaru ke 27. Moment ini penting sekali, karena bagi Erna Lisa Halaby perayaan ke 27 tahun Kota Banjarbaru adalah yang pertama sejak menjadi Walikota Banjarbaru.

BERITA TERKAIT

Peringatan Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru pada tahun 2026 patut disambut dengan optimisme. Persiapan yang mulai dimatangkan oleh Pemerintah Kota Banjarbaru menunjukkan bahwa momentum ulang tahun kota tidak sekadar dipandang sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai ruang untuk memperkuat kebersamaan masyarakat.

Arahan Wali Kota Banjarbaru, Erna Lisa Halaby, yang menekankan transparansi dan kerja kolektif dalam kepanitiaan menjadi pesan penting bagi seluruh elemen yang terlibat. Di tengah kondisi efisiensi anggaran yang sedang dijalankan pemerintah, pilihan untuk tetap menyelenggarakan peringatan hari jadi dengan semangat kebersamaan menunjukkan sikap kepemimpinan yang adaptif dan kreatif.

Tema yang disepakati, “Kita Gawi Sabarataan, Bakurinah Gasan Banjarbaru Emas,” memiliki makna yang sangat kuat dalam konteks budaya Banjar. “Gawi sabarataan” mencerminkan kerja bersama, sementara “bakurinah” menggambarkan semangat saling mendukung. Nilai-nilai ini sejatinya adalah modal sosial masyarakat Banjarbaru dalam membangun kota yang maju dan inklusif.

Yang menarik dari rencana peringatan kali ini adalah upaya untuk melibatkan masyarakat secara lebih luas, termasuk mengundang seluruh ketua RT di Banjarbaru untuk menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Langkah ini patut diapresiasi karena menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari perayaan.

Ketua RT merupakan ujung tombak pemerintahan di tingkat paling dekat dengan warga. Melibatkan mereka berarti membuka ruang partisipasi komunitas secara langsung. Dari perspektif tata kelola pemerintahan, pendekatan ini sejalan dengan prinsip participatory governance, di mana pembangunan kota tidak hanya digerakkan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kekuatan masyarakat.

Selain itu, rencana menghadirkan tokoh inspiratif seperti Antea Putri Turk juga memiliki nilai simbolik yang kuat. Kehadirannya, sebagai cicit dari Wage Rudolf Supratman, tidak hanya memperkaya agenda peringatan hari jadi, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya nilai nasionalisme dan kebanggaan terhadap sejarah bangsa.

Di sisi lain, perhatian pemerintah terhadap karya warga daerah, seperti lagu “Banjarbaru Emas” ciptaan Sigit dari Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Nasional, menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat lokal mendapatkan ruang apresiasi. Kisah seorang tunanetra yang mampu menciptakan karya musik dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan merupakan simbol bahwa keterbatasan tidak pernah menjadi penghalang untuk berkarya. Lurah Mentaos Ciptadi Sunaryo, SE merespon berita ini dengan penuh suka cita. "Alhamdulillah... Suatu kebanggaan nah lagu ciptaan warga Mentaos (jika-red) akan dikumandangkan dihari jadi kota Banjarbaru nanti". Demikian pesan WA Lurah yang diterima Redaksi KIM Tangguh. Adapun Tri Kurniawan, Ketua RT 02/RW VI hanya bisa bilang MANTAP. Inisiatif ini memberikan pesan penting bahwa pembangunan kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari penghargaan terhadap kreativitas dan martabat warganya.

Rencana menghadirkan kegiatan spiritual melalui doa bersama juga menjadi langkah yang tepat. Kehidupan kota yang maju tetap membutuhkan fondasi nilai-nilai spiritual sebagai penyeimbang pembangunan material. Upaya menghadirkan Hanan Attaki untuk memimpin sholat hajat menunjukkan bahwa pemerintah ingin menghadirkan dimensi kebersamaan yang tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga spiritual.

Dengan berbagai gagasan tersebut, peringatan Hari Jadi ke-27 Banjarbaru berpotensi menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Ia dapat menjadi momentum refleksi kolektif, sejauh mana kota ini telah berkembang, dan bagaimana seluruh warga dapat terus berkontribusi dalam perjalanan menuju Banjarbaru yang lebih maju.

Bagi masyarakat, terutama para tokoh lingkungan seperti ketua RT, momentum ini juga merupakan kesempatan untuk memperkuat peran sebagai penggerak komunitas. Semangat gotong royong yang diangkat dalam tema peringatan hari jadi harus menjadi energi bersama dalam menjaga lingkungan, memperkuat solidaritas sosial, dan mendorong partisipasi warga dalam pembangunan.

Pada akhirnya, usia ke-27 bagi sebuah kota adalah usia yang masih muda, namun penuh potensi. Dengan kepemimpinan yang terbuka, partisipasi masyarakat yang luas, serta semangat kebersamaan yang terus dirawat, Banjarbaru memiliki modal kuat untuk melangkah menuju masa depan yang lebih maju—sejalan dengan cita-cita besar Banjarbaru Emas.