Dari Redaksi : Informasi Salah Bikin Susah

  • Dec 06, 2025
  • Abdul Karim
  • Aspirasi

Mentaos-Tangguh (6/12/25) Beberapa hari lalu beredar video di grup WA Forum RT RW Kelurahan Mentaos mengenai tanah longsor di Kilometer 171 Kecamatan Satui Kabupaten Tanah Bumbu - Kalimantan Selatan. Berita tersebut tampaknya cocok dengan kondisi iklim di Kalsel saat ini yang banyak hujan, di samping berita utama di media massa mengenai banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh yang diwartakan sangat massif. Jurnalis KIM TANGGUH yang menelusuri kebenaran berita longsor KM 171 Satui tersebut, mendapatkan fakta bahwa video yang beredar itu adalah kejadian lama yang diposting ulang. Kejadiannya benar tetapi waktunya sudah lewat.

Di era media sosial yang serba cepat, banyak informasi lama yang beredar kembali seolah-olah baru terjadi. Misalnya, unggahan tentang banjir besar, konflik sosial, atau kebijakan pemerintah yang sudah lewat, tetapi direpost ulang tanpa menyebut waktu kejadian. Akibatnya, masyarakat yang membaca bisa salah paham dan mengira peristiwa itu masih terjadi saat ini.

Jenis informasi seperti ini tidak sepenuhnya palsu, karena pernah benar pada masanya. Namun ketika dilepaskan dari konteks waktu, ia menjadi menyesatkan.
Dalam istilah literasi digital, ini disebut disinformasi konteks salah (false context) bagian dari disinformasi, yakni penyebaran informasi yang menyesatkan meskipun datanya tampak benar.

Menurut UNESCO dan Kementerian Kominfo RI, false context adalah salah satu dari tujuh bentuk mis/disinformasi, yaitu (1) Satire/parodi – tidak bermaksud menipu tapi bisa disalahpahami. (2) Konten menyesatkan (misleading content), yaitu menggunakan fakta dengan konteks salah. (3) Konten tiruan (imposter content)  meniru sumber resmi. (4) Konten palsu (fabricated content),  sepenuhnya bohong. (5) Konteks salah (false context),  isi benar, konteks salah. (6) Konten salah hubung (false connection),  judul/gambar tidak sesuai isi. (7) Konten manipulatif (manipulated content), gambar/video disunting.

Informasi selalu menyisakan efek. Ketujuh macam jenis mis/disinformasi tersebut dapat menimbulkan kegaduhan publik, menggerus kepercayaan terhadap media dan pemerintah, seerta menyebabkan respon salah dalam penanganan isu sosial. Misalnya, gara-gara percaya info longsor KM 171 Satui tersebut seseorang harus membatalkan perjalanan bisnisnya.

Cara mencegah disinformasi konteks salah adalah pertama cek tanggal dan sumber. Jika tidak ada waktu kejadian, jangan langsung percaya. Kedua gunakan mesin pencari atau fitur reverse image search untuk melacak kapan berita atau foto itu pertama kali muncul. Ketiga, cari lebih banyak sumber berita agar mendapat konteks utuh. 

Sebagai bagian dari masyarakat informasi dan mitra strategis Pemerintah, KIM Tangguh (KIM Terkreatif Indonesia 2025) punya tanggung jawab untuk menyebarkan informasi dengan konteks yang tepat. Mari tingkatkan kehati-hatian dalam menyebar berita, "saring sebelum sharing",  jadilah masyarakat tangguh, cerdas, dan bertanggung jawab dalam bermedia digital. Ciptakan harmoni jangan menciptakan ironi. 

 

Sumber rujukan:

  1. UNESCO. Journalism, ‘Fake News’ & Disinformation: Handbook for Journalism Education and Training (2021)
  2. Kementerian Kominfo RI. Panduan Identifikasi Hoaks dan Disinformasi (2019)
  3. UU No. 11 Tahun 2008 jo. UU No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 28 ayat (1)