Laporan Khusus : MBG di Mentaos

  • Oct 08, 2025
  • Abdul Karim
  • Info Umum

SMPN 2 dan SMP IT Rabbani Jadi Contoh Implementasi Program MBG di Kelurahan Mentaos

Mentaos-Tangguh, 9 Oktober 2025 — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kini telah berjalan di berbagai daerah, termasuk di SMP Negeri 2 Banjarbaru. Program ini ramai dibicarakan publik, baik di media massa maupun media sosial. Di tengah beragam opini yang berkembang—mulai dari kabar miring terkait kasus keracunan hingga apresiasi positif. Selama 2 hari (6-7/10/25) Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Tangguh Mentaos melakukan penelusuran langsung untuk mengetahui pelaksanaannya di lapangan.

Kunjungan dilakukan ke dua lokasi penerima dan penyedia layanan MBG, yaitu SMP Negeri 2 Banjarbaru sebagai penerima manfaat, dan SMP IT Rabbani sebagai salah satu mitra pemerintah penyedia layanan MBG. Kedua sekolah tersebut berlokasi di Kelurahan Mentaos, Banjarbaru.

Pelaksanaan MBG di SMP Negeri 2 Banjarbaru

Kepala SMP Negeri 2 Banjarbaru, Norpiah, S.Pd, menjelaskan kepada jurnalis KIM bahwa pelaksanaan MBG telah dimulai sejak Juli 2025. Program ini melibatkan sekitar 824 siswa dan siswi yang setiap hari menikmati makan siang bergizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungai Ulin 1, yang beralamat di Kelurahan Sungai Ulin.

“Menu yang disediakan cukup bagus dan mayoritas siswa menyukainya. Walaupun ada sebagian kecil yang belum terbiasa, tetapi secara umum pelaksanaan berjalan baik,” ujar Norpiah.

Ia juga menyebutkan bahwa masih ada beberapa siswa yang belum mengambil jatahnya, kemungkinan karena belum terbiasa dengan menu yang disajikan. Beberapa orang tua siswa menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah, karena program ini membantu menghemat biaya rumah tangga dan sangat membantu bagi mereka yang memiliki kesibukan tinggi.

“Kami sangat senang. Anak-anak tidak perlu bawa bekal dari rumah lagi, dan kami lebih tenang karena makanannya dijamin bergizi,” kata salah satu wali murid. Namun demikian, wali siswa lainnya mengingatkan agar penyedia lebih berhati-hati dan menjaga kebersihan (higienitas) agar tidak terjadi kasus keracunan.

Terkait menu, Kepala Sekolah mengakui masih ada tantangan. “Menu yang sama setiap hari bisa menimbulkan kebosanan. Apalagi anak-anak zaman sekarang cenderung suka makanan olahan seperti nugget dan burger,” jelasnya.

Salah satu siswi, Siti Aisyah, mengatakan dirinya senang dengan adanya program MBG karena bisa menabung. “Uang jajan dari orang tua sekarang cuma kepakai separuh, lumayan bisa nabung,” ujarnya, yang diamini oleh teman-temannya Teysa, Kanza, dan Gina.

Untuk jadwal makan siang, kegiatan dilaksanakan pada jam istirahat kedua pukul 12.00 WITA, bersamaan dengan waktu salat zuhur. Setiap kelas menugaskan empat siswa untuk mengambil makanan dan mendistribusikannya.

“Dulu sempat ada kendala keterlambatan pengiriman makanan, tapi setelah dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan, sekarang sudah lancar,” tambah Norpiah.

Kepsek menanggapi positif terhadap  gagasan agar sekolah diberi kesempatan mengelola MBG secara mandiri melalui kantin sekolah. “Dengan dimasak di tempat, makanan lebih segar dan bisa memberdayakan pelaku UMKM sekitar sekolah,” ujarnya.

Rabbani: Mitra Pemerintah Penyedia MBG

Selain di SMP Negeri 2, tim KIM juga mengunjungi Yayasan Generasi Rabbani, yang menjadi penyedia MBG bagi sejumlah sekolah di Banjarbaru. Yayasan ini menyelenggarakan pendidikan Islam terpadu dari PAUD hingga SMP IT Rabbani, berlokasi di Jl. Mentaos Raya. Lurah Mentaos, Ciptadi Sunaryo, SE, bersama jurnalis KIM Mentaos diterima langsung oleh Kepala SPPG Rabbani. Pihak Rabbani menjelaskan bahwa mereka tidak hanya melayani sekolah sendiri, tetapi juga beberapa penerima manfaat lain, seperti SMKN 1 Banjarbaru, PAUD Al-Amin, dan SMA Bethel, dengan total 2.598 siswa.

“Kami ingin mendukung penuh program pemerintah ini. Memasak untuk sekolah lain tentu punya tanggung jawab yang berbeda, tapi kami berkomitmen untuk memberikan yang terbaik,” ujar Kepala SPPG Rabbani.

Pihak SPPG Rabbani mengakui ada sejumlah tantangan teknis, mulai dari pemilihan bahan makanan, ketepatan waktu pengiriman, hingga menjaga standar gizi dan kebersihan. Namun, pengalaman panjang dalam penyediaan konsumsi peserta didik membantu mereka beradaptasi dengan baik. “Kami menghindari bahan-bahan yang cepat basi seperti toge. Semua bahan harus memenuhi standar gizi sekaligus tahan di perjalanan,” tambahnya.

Dapur MBG Rabbani telah memiliki sertifikat higienis, sementara sertifikat halal dan keamanan pangan sedang dalam proses pengurusan. Untuk menjamin transparansi, dapur juga dilengkapi 6 unit CCTV yang dapat diakses langsung oleh Badan Gizi Nasional. Di samping itu, rutin dikunjungi oleh Puskesmas Banjarbaru Utara untuk pengawasan kebersihan dan keamanan pangan.

Gotong Royong Awasi MBG

Dari hasil kunjungan ke SMPN 2 dan Rabbani, KIM Mentaos menyimpulkan bahwa pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan upaya besar pemerintah yang melibatkan sumber daya luas dan jutaan peserta didik di seluruh Indonesia.
Kunci keberhasilan program ini terletak pada pengawasan mutu, partisipasi masyarakat, serta koordinasi antara sekolah, penyedia layanan, dan instansi pemerintah.

“Pengawasan terhadap mutu makanan adalah hal yang utama. Semua pihak, mulai dari orang tua, masyarakat, hingga lembaga pendidikan, harus bahu-membahu menjaga keberlangsungan program ini.

Keterangan : (Kanan) siswi SMP Negeri 2 Banjarbaru. (Foto Abdul Karim).  (kiri) Lurah Mentaos bersama pengurus SPPG Rabbani