Memahami Riya

  • Feb 10, 2026
  • Abdul Karim
  • Dakwah

Mentaos-Tangguh (10/2/26) Riya adalah salah satu penyakit hati yang paling halus namun paling berbahaya dalam ibadah. Ia muncul ketika seseorang beramal bukan semata-mata karena Allah, melainkan karena ingin dilihat, dipuji, atau diakui oleh manusia. Secara lahiriah ibadah tampak baik, tetapi secara batin niatnya tercemar.

Langkah pertama untuk menghindari riya adalah meluruskan niat sejak awal. Setiap ibadah perlu diawali dengan kesadaran bahwa ia adalah bentuk penghambaan kepada Allah, bukan sarana pencitraan diri. Niat yang terus diperbarui akan menjaga hati dari keinginan mencari penilaian manusia.

Kedua, memperbanyak ibadah yang tersembunyi. Amal-amal yang tidak diketahui orang lain—seperti doa, dzikir, atau sedekah secara diam-diam—membantu melatih keikhlasan. Ibadah yang sunyi dari sorotan publik sering kali lebih jujur dalam menjaga kemurnian niat.

Ketiga, tidak bergantung pada pujian dan tidak gelisah terhadap celaan. Ketika hati terlalu senang dipuji atau terlalu sedih dicela, di situlah benih riya tumbuh. Sikap seimbang—tidak silau oleh sanjungan dan tidak runtuh oleh kritik—menjadi tanda ibadah yang ikhlas.

Keempat, menyadari bahwa penilaian manusia tidak menentukan nilai ibadah. Manusia hanya melihat tampilan luar, sedangkan Allah menilai isi hati. Kesadaran ini membantu seseorang fokus pada kualitas hubungan dengan Tuhan, bukan citra diri di hadapan sesama.

Terakhir, memohon perlindungan kepada Allah dari riya. Keikhlasan bukan semata hasil kekuatan diri, tetapi karunia yang perlu terus diminta. Doa menjadi pengingat bahwa hati manusia mudah berbolak-balik dan membutuhkan bimbingan Ilahi.

Riya tidak selalu bisa dihindari sepenuhnya, tetapi ia bisa dikendalikan. Dengan niat yang lurus, amal yang tersembunyi, dan kesadaran akan tujuan ibadah, seorang hamba dapat menjaga agar ibadahnya tetap murni—bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk didekatkan kepada Allah.

Ustadz KH Shihabuddin, Lc dalam majlis taklim di Langgar Al Munawarah tadi malam (9/2/26) kembali mengingatkan masalah riya, agar setiap muslim memahami dengan baik dan tidak salah langkah. Kata Guru Shihab bisa saja seseorang jadi tidak beribadah semata karena takut dianggap orang riya. Sikap yang demikian tidak tepat. Teruslah beribadah sebagaimana seharusnya dan apa adanya. Tidak perlu takut dinilai orang riya. Justru ketika kita tidak beribadah semata karena takut dinilai riya maka pada saat itulah kita sudah jatuh ke dalam riya. Allah maha tahu apa yang ada dalam diri kita, niat kita, dan keikhlasan kita.

Mengapa kita harus beribadah karena Allah?. karena hanya  Allah yang dapat memberi kita pahala.  Apabila kita beribadah karena manusia, maka pahalanya harus ditagih kepada manusia. Di situlah kerugian kita ketika beribadah bukan karena Allah. Dan itu berarti riya.