Memaknai Pesan Ramadhan Walikota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby
- Feb 27, 2026
- Abdul Karim
- Opini Redaksi
Toleransi Beragama: Fondasi Kenyamanan dan Kedamaian Masyarakat
Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman, tetapi di atas keberagaman. Perbedaan agama, suku, budaya, dan tradisi bukanlah ancaman, melainkan kenyataan sosial yang harus dikelola dengan kedewasaan. Di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, toleransi beragama menjadi fondasi utama untuk menciptakan rasa nyaman, aman, dan harmonis.
Toleransi bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, bukan pula mengaburkan keyakinan pribadi. Toleransi adalah sikap menghargai hak orang lain untuk meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, sebagaimana kita ingin keyakinan kita juga dihormati. Dalam konteks sosial, toleransi adalah bentuk pengakuan atas martabat manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan beragama.
Secara konstitusional, negara telah menjamin kebebasan beragama. Namun, jaminan hukum saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga ruang sosial tetap teduh. Konflik sosial seringkali bukan lahir dari ajaran agama itu sendiri, melainkan dari sikap eksklusif, prasangka, dan kurangnya komunikasi antarwarga.
Di tingkat paling kecil, seperti RT dan RW, toleransi memiliki makna yang sangat konkret. Ia hadir dalam bentuk sederhana: tidak mengganggu ibadah tetangga, menjaga ketenangan saat hari besar keagamaan, saling membantu tanpa memandang perbedaan keyakinan, serta menghindari ujaran kebencian baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Rasa nyaman dalam masyarakat bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ia dibangun melalui interaksi yang saling menghormati. Ketika warga merasa dihargai, mereka akan lebih terbuka untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial: gotong royong, kerja bakti, musyawarah, hingga kegiatan kemanusiaan. Sebaliknya, jika muncul sikap saling curiga atau merendahkan, ruang sosial akan terasa sempit dan penuh ketegangan.
Toleransi juga berfungsi sebagai benteng terhadap provokasi dan hoaks yang sering memanfaatkan isu agama. Di era digital, informasi yang tidak benar dapat menyebar dalam hitungan detik dan memicu emosi kolektif. Karena itu, kedewasaan dalam menyaring informasi menjadi bagian penting dari menjaga harmoni antarumat beragama. Jangan mudah terpancing, jangan cepat menghakimi, dan selalu utamakan klarifikasi.
Lebih jauh, toleransi beragama mencerminkan kematangan demokrasi. Demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi tentang bagaimana warga hidup berdampingan dengan damai meskipun berbeda pilihan dan keyakinan. Masyarakat yang toleran adalah masyarakat yang kuat, karena ia tidak mudah dipecah oleh isu identitas.
Dalam kehidupan sehari-hari, toleransi dapat diwujudkan melalui tiga sikap utama:
Pertama, menghargai perbedaan. Mengakui bahwa perbedaan adalah realitas sosial, bukan kesalahan yang harus dihapuskan.
Kedua, menghormati praktik ibadah dan simbol keagamaan orang lain. Tidak merendahkan, tidak mencemooh, dan tidak menjadikannya bahan provokasi.
Ketiga, membangun komunikasi yang sehat. Jika terjadi kesalahpahaman, selesaikan melalui dialog, bukan melalui prasangka atau kemarahan.
Masyarakat yang nyaman adalah masyarakat yang merasa aman menjadi dirinya sendiri. Ketika setiap orang dapat menjalankan keyakinannya tanpa rasa takut, maka di situlah nilai kemanusiaan benar-benar ditegakkan. Toleransi bukan sekadar slogan, melainkan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian.
Pada akhirnya, toleransi beragama adalah investasi sosial jangka panjang. Ia menumbuhkan kepercayaan, memperkuat solidaritas, dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembangunan. Di tingkat lokal, dari lingkungan RT hingga kota, toleransi adalah energi yang membuat masyarakat tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, mari kita rawat ruang kebersamaan ini. Berbeda itu pasti, tetapi rukun itu pilihan. Dan salah satu ikhtiar untuk mewujudkan Harapan Baru Banjarbaru Emas adalah pilihan untuk saling menghargai dan menghormati.
Keterangan : Sumber fotohttps://mediacenter.banjarbarukota.go.id/