Mengenang Guru Sekumpul

  • Nov 24, 2025
  • Abdul Karim
  • Dakwah

Mentaos-Tangguh (24/11/25) Jurnalis KIM memantau kesibukan mulai merebak dimana-mana. Di beberapa lokasi sekitar Mentaos, tampak para Ketua RT mengkoordinasikan warga untuk menyiapkan tenda posko dan lahan parkir bagi jamaah yang diduga akan membludak jutaan orang seperti tahun tahun sebelumnya. Menurut kabar haul Guru Sekumpul ke 22 akan dilaksanakan dalam bulan Desember ini. Jadi tahun ini ada 2 kali peringatan karena haul ke 21 dilaksanakan 5 Januari 2025.

Kelurahan Mentaos adalah kelurahan yang berbatasan langsung dengan Martapura. Dapat dipastikan kehadiran jamaah akan melimpah sampai ke Mentaos. Kesibukan lalu lintas manusia memuncak pada momen kepulangan dari Sekumpul. Jalan-jalan sekitar Martapura dan Banjarbaru pasti akan macet. Pengendara roda dua utamanya akan blusukan atau "mehantas" ke jalan-jalan kecil guna menghindari macet.

Tahun lalu, kemacetan arah pulang di Banjarbaru sampai pukul 12.00 malam. Banyak pengendara yang tersasar karena ada rekayasa lalu lintas oleh Panitia, banyak masalah mesin kendaraan, ban bocor dan kehabisan bensin. Jika hujan akan turun maka masalah akan semakin kompleks. Posko-posko yang didirikan masyarakat secara sukarela menjagai masalah-masalah tersebut. Posko menyiapkan konsumsi dan lain-lain secara gratis.

Guru Sekumpul menurut sumber ChatGpt lahir dengan nama Qusyairi (kemudian berganti nama menjadi Muhammad Zaini bin Abdul Ghani)  Gelar umum: Guru Sekumpul, juga dikenal sebagai “Abah Guru Sekumpul”. Tanggal lahir: 11 Februari 1942 (27 Muharram 1361 H) di Desa Tunggul Irang Seberang, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Wafat: 10 Agustus 2005 (di Martapura). Silsilah: Keturunan ke-8 dari ulama besar Tanah Banjar, Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjari. Guru Sekumpul punya anak dua orang, yaitu Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali.

Dari masa kecil, beliau sudah dikenalkan dengan pendidikan agama seperti membaca Al-Qur’an, ilmu tauhid, dan akhlak oleh orang tua dan neneknya.Pada usia 9 tahun, beliau memasuki Pondok Pesantren Darussalam Martapura di Martapura, dan belajar selama sekitar 12 tahun dengan predikat terbaik. Selain pendidikan formal, beliau juga berguru ke rumah-rumah ulama dan menuntut ilmu ke luar daerah termasuk ke Pulau Jawa, bahkan ke Mekkah untuk diminta bimbingan ruhani.Setelah beberapa waktu mengajar di pondok pesantren, beliau kemudian membuka pengajian sendiri di kediamannya di Martapura dan berkembang sangat besar. Materi pengajian beliau mencakup kitab-kita klasik (kitab kuning) seperti fikih, tafsir, hadis, tasawuf, serta pembacaan maulid dan kasidah. Pengajian beliau menarik jamaah dari berbagai kalangan dan wilayah, bukan hanya lokal Banjar tetapi juga datang dari luar daerah. Guru Sekumpul dikenal sebagai sosok yang karismatik, rendah hati, memiliki kedalaman spiritual dan banyak dijadikan panutan umat. Warisan beliau masih terasa dalam tradisi keulamaan Banjar, pengajian rakyat, dan budaya keagamaan lokal.Situs makam Guru Sekumpul di Martapura kini menjadi tempat ziarah, refleksi, dan pengajian rutin bagi banyak orang.

Ummat Islam di Martapura, Kalsel bahkan dari luar pulau dan luar negeri berdatangan ke  Sekumpul Martapura untuk berdoa bersama setiap tahun pada bulan Rajab untuk memperingati kematian Guru Sekumpul. Tahun ini adalah tahun ke 22.