Opini Redaksi : Jangan ada dusta diantara maya dan nyata
- Nov 12, 2025
- Abdul Karim
- Opini Redaksi
Perkembangan teknologi informasi telah menciptakan ruang baru yang disebut dunia maya. Di sana, setiap orang dapat mengekspresikan diri, berpendapat, berinteraksi, bahkan membangun identitas digital. Namun, kebebasan yang luas ini sering kali membuat sebagian orang lupa bahwa etika dan tanggung jawab sosial tetap berlaku. Ungkapan “jangan ada dusta di antara maya dan nyata” menjadi refleksi penting untuk menjaga harmoni dan menolak kepalsuan antara kehidupan digital dan kehidupan sosial. Sebab dengan kecenggihan teknologi informasi, semua keburukan dapat dibungkus dengan rapi dan melahirkan citra digital nyaris tanpa cela. Gara-gara kecerdasan buatan ini, maka kecantikan seseorang itu tidak saja lahir dari keturunan dan kecerdasan melainkan jauga hasil editan. Tidak jarang ada kejadian mencari jodoh di Facebook yang tertipu oleh foto calon pasangan.
Fenomena ujaran kebencian, penyebaran hoaks, serta perundungan siber (cyberbullying) menunjukkan bahwa dunia maya kerap dijadikan ruang tanpa kontrol moral. Padahal, setiap aktivitas digital meninggalkan jejak (digital footprint) yang dapat diakses dan dipertanggungjawabkan secara hukum. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) beserta perubahannya telah menegaskan bahwa perilaku di dunia maya tunduk pada norma hukum yang sama dengan dunia nyata.
Etika digital bukan hanya soal sopan santun dalam berkomunikasi, tetapi juga mencakup kejujuran dalam menyebarkan informasi, menghormati privasi orang lain, serta menghargai karya cipta. Prinsip netiquette (network etiquette) menuntut agar pengguna internet memiliki kesadaran moral yang sama seperti saat berinteraksi langsung. Dengan demikian, bersikap bijak di dunia maya berarti mampu berpikir sebelum berbagi (think before you post).
Kita yang masih muallaf di dunia virtual sering berasumsi bahwa kehidupan virtual itu hanya sekedar sesuatu tanpa konsekwensi apapun karena bersifat maya. Di awal hadirnya teknologi informasi yang paling basic misalnya telepon rumah yang belum mempunyai fitur canggih, anggapan tersebut ada benarnya. Namun ketika era teknologi informasi sudah ada di level puncak saat ini, anggapan tersebut primitif.
Kehidupan virtual tidak dapat dipisahkan dari dunia nyata. Reputasi seseorang di dunia maya dapat memengaruhi kepercayaan, karier, bahkan relasi sosial di dunia nyata. Karena itu, kesadaran digital (digital awareness) perlu ditanamkan sejak dini, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas masyarakat. Program literasi digital yang dikembangkan oleh Komdigi dan dinas Kominfo di daerah serta berbagai komunitas seperti Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) menjadi garda terdepan dalam membangun budaya bermedia yang sehat dan bertanggung jawab.
Menjadi bijak di dunia maya berarti menjaga diri, menghormati orang lain, dan memelihara nilai-nilai moral dalam setiap interaksi digital. Sebab, dunia maya hanyalah cerminan dari siapa kita di dunia nyata. Nilai nilai kejujuran tetap berlaku di dunia maya sebagaimana berlaku di dunia nyata.
Maka di antara maya dan nyata janganlah ada dusta.
Disclaimer : Artikel diedit Penulis dari AI. Foto diambil dari google.