Pak Amir, Setelah Pensiun Fokus ke Ikan

  • Oct 17, 2025
  • Abdul Karim
  • Literasi

Mentaos-Tangguh (17/10/25) Menekuni usaha periwakan dilakukan pak Amir dalam waktu 4 tahun ini, ternyata dapat menghasilkan kemajuan ekonomi keluarga yang signifikan. Pembudidayaan ikan fokus ke lele dilpilih pak Amir dengan cerdas, karena pasar lele di Banjarbaru sangat terbuka sementara supply masih terbatas. Namun memelihara lele butuh ketekunan, disiplin, pengalaman dan kecerdasan. Karena lele punya karakter yang harus dipahami agar bisa berkembang dan bertahan, salah-salah bisa terjadi kematian massal.

Salah satu titik kritis adalah proses pemisahan lele berdasarkan ukuran badan setelah bibit ikan ditabur. Kata Pak Amir, lele adalah hewan predatur yang suka memakan kawannya sendiri. Maka perlu pengelompokan yang relatif seimbang secara size fisik untuk mencegah pemangsaan. Proses itu berhasil dilalui Pak Amir setiap siklus panen sekitar 2,5 bulan.

Bibit dan pakan, diakui pak Amir sering mendapat bantuan dari Pemerintah. Dengan modal yang pas-pasan, bantuan dari pemerintah tersebut sangat berarti. Untuk marketing hampir tak ada masalah. Deman yang tinggi di kota Banjarbaru menyebabkan pembeli partai memburu lele dan datang sendiri ke kolam Pak Amir di Kampung Iwak Mentaos.  Pak Amir hanya melayani pembelian secara partai, itupun belum bisa memenuhi permintaan.  Mengenai harga jual, relatif stabil. Sejauh ini penjual lele merasakan kewajaran harga. Tengkulak ikan lele tidak ada yang masuk ke kampung iwak. Dibantu oleh Penyuluh Lapangan (pak Estu) yang selalu stand by setiap dibutuhkan membuat para petani ikan di Kampung Iwak  sangat terbantu. 

Jurnalis KIM menyarankan agar Pak Amir masuk ke markering on line, supaya memudahkan pelanggan. Saran diterima Pak Amir dengan senang hati. Nanti saatnya siap tenaga kerja dan kompetensinya mungkin iwak lele Kampung Iwak besutan pak Amir akan tampil di market place.