Pesan dari Mentaos : Komodifikasi Panggul Beras

  • Dec 18, 2025
  • Abdul Karim
  • Opini Redaksi

 

Mentaos-Tangguh (18/12/25) Tak lama berselang setelah terjadi banjir besar di 3 propinsi pulau Sumatera, sejumlah pejabat pusat terjun ke lokasi. Aktivitas pejabat terekam dengan detil oleh kamera-kamera resmi maupun amatiran. Salah satu action yang menjadi viral adalah drama pejabat memanggul sekarung beras sendirian di tengah puing-puing gelondongan kayu dan sisa-sisa rumah yang porak poranda dilincai banjir. Sequel drama itu menjadi cibiran warganet karena anomali, mengapa hanya pejabat itu yang memanggul karung beras laksana kuli di Pasar Kupu Kupu Banjarmasin sementara manusia di sekitarnya hanya pegang kamera atau melenggang kangkung belaka.

Pertanyaan itu, dijawab oleh Guy Debord dengan istilah  “society of spectacle” yaitu  “masyarakat tontonan”, dimana segala hal hadir dalam bentuk gambar, video, dan simbol yang mudah dikonsumsi. Dan faktanya orang lebih cepat menilai dari apa yang terlihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi. Para pemburu popularitas itu sangat menyadari keadaan tersebut.

Presiden Prabowo dengan cepat menangkap gejala itu. Karena yang potensial  melakukan adalah pejabat atau figur politik yang berarti itu ada di seputaran Presiden. Maka dengan tegas Prabowo menohok, “jangan ada wisata bencana”.

Kelatahan yang kita saksikan saban hari, baik yang disengaja atau tidak disengaja, atau bahkan berupa suatu projek besar, hanyalah realitas yang “memang sudah zamannya”. Fakta berbicara bahwa orang menilai hanya kepada apa yang terlihat. Boleh jadi acara inti hanya 30 menit, tetapi sesi foto bisa memakan waktu 1 jam. Mulai gaya konservatif, gaya bebas, dan lucu, dan diakhiri dengan yel yel. Itu real.

Dalam ilmu komunikasi, fenomena seperti ini disebut komodifikasi. Hampir semua kita, sadar atau tidak, sengaja atau tak sengaja, bermotif atau hanya kebetulan, terencana atau hanya iseng saban,  waktu kita melakukan komodifikasi. Sepi ing pamrih sudah berlalu. Era itu diganti dengan "rame ing foto".  "Image better than qualitiy"

Di panggung politik,  citra menentukan elektabilitas. Di dunia kerja, personal branding menentukan peluang karier. Di media sosial citra menarik perhatian dan algoritma, di dunia bisnis, kemasan menentukan harga. Segelas kopi yang Rp. 4 ribu  di warkop, akan jadi Rp. 40 ribu bila naik ke cafe di mall. Kini, citra bukan lagi sekadar penampilan, tapi merupakan modal sosial baru. Akibatnya, orang terdorong untuk mengelola penampilan diri, bahkan jika kualitas aslinya belum sepadan. (bersambung)