Raden Aria Wangsakara

  • Nov 14, 2025
  • Abdul Karim
  • Literasi

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683), Raden Aria Wangsakara terlibat dalam konflik internal istana. Cucu Sultan Maulana Yusuf ini menentang kebijakan istana yang membuat kerja sama Kesultanan Banten dengan Belanda (VOC),

Karena sikap kritisnya terhadap kebijakan politik yang condong ke Belanda, ia memilih  meninggalkan Banten bersama beberapa pengikut setianya untuk mencari wilayah baru yang masih bebas dari pengaruh VOC.

Sekitar tahun 1632 M, Raden Aria Wangsakara bersama dua kerabatnya — Raden Aria Santika dan Raden Aria Yuda Negara  pergi ke wilayah yang saat itu masih berupa hutan di tepi Sungai Cisadane. Di sana mereka Membuka pemukiman baru yang disebut Lengkong Sumedang (sekarang termasuk wilayah Tangerang Selatan), Mereka membentuk pemerintahan untuk menegakan keadilan berlandaskan moral agama.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 109/TK/2021 tanggal 25 November 2021 Raden Aria  Wangsakara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Kurang lebih 400-an tahun kemudian, di wilayah yang disebut Lengkong Sumedang itu diselenggarakan Kimfest 2025. Itulah Tangerang.

Ket : Sungai Cisadane, dipotret dari lantai 8 Hotel Yellow Bee - Tangerag (foto Abdul Karim)

Noted : Artikel ini dielaborasi dengan AI, Foto Raden Arya Wangsakara diambil dari Wikipedia