Rasulullah Memilih Hidup Sederhana
- May 19, 2026
- Abdul Karim
- Dakwah
Banyak orang memahami kemiskinan hanya sebagai kekurangan harta. Padahal dalam kehidupan Muhammad SAW, terdapat pelajaran besar tentang kesederhanaan, kerendahan hati, dan tidak diperbudak oleh kemewahan dunia.
Rasulullah pernah berdoa agar hidup dalam keadaan sederhana, bukan karena beliau membenci kekayaan, tetapi karena beliau ingin menjaga hati agar tetap dekat kepada Allah SWT dan tidak tenggelam dalam kesombongan duniawi. Kesederhanaan menjadi jalan untuk menjaga empati kepada rakyat kecil, kaum lemah, dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Sesungguhnya Rasulullah bukan orang miskin dalam arti tidak memiliki kemampuan ekonomi. Beliau adalah seorang pedagang yang jujur dan sukses sebelum diangkat menjadi nabi. Bahkan istrinya, Sayyidah Khadijah RA, dikenal sebagai saudagar kaya di Kota Mekah. Namun kekayaan itu tidak menjadikan Rasulullah hidup bermewah-mewahan.
Rumah beliau sangat sederhana. Makanan sehari-hari sering kali hanya kurma dan air. Tikar kasar membekas di tubuh beliau ketika tidur. Tetapi hati beliau kaya dengan rasa syukur, kasih sayang, dan ketenangan jiwa.
Di zaman modern sekarang, ketika banyak orang berlomba memamerkan kemewahan di media sosial, keteladanan Rasulullah menjadi sangat relevan. Kesederhanaan bukan berarti malas bekerja atau menolak rezeki, melainkan kemampuan mengendalikan diri agar harta tidak menguasai hati.
Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Bahkan kekayaan dapat menjadi sarana membantu sesama, membangun pendidikan, memperkuat ekonomi umat, dan menolong orang miskin. Namun Rasulullah mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan diukur dari banyaknya harta, melainkan dari ketakwaan dan akhlaknya.
Banyak manusia terjebak dalam kehidupan duniawi, harta benda, rupa/bentuk fisik, serta kekuasaan dikira akan selamanya ada. Bahkan ada manusia yang pernah memegang kekuasaan kemudian pensiun, merasa masih tetap berkuasa. Sehingga masih membawa-bawa kekuasaannya ketika kembali ke masyarakat sebagai rakyat biasa.
Kata KH Shihabuddin, Lc dua penyakit yang tidak ada obatnya, yaitu menua dan mati. Jadi usia tua adalah keniscayaan, meskipun mungkin "terkesan muda" namun faktanya tetap tua. Demikian pula mati, tidak ada mahluk apapun yang tidak akan mati, maka harus kita siapkan bekal apa yang akan dibawa mati sebagai bahan pertanggungjawaban di depan Allah SWT pada hari perhitungan (yaumil hisab).
Itulah intisari dari tausiah KH Shihabuddin, Lc di Langgar Al-Munawarah tadi malam (18/5/26). (*BKa)