Terperdaya oleh Ibadah

  • Jul 03, 2026
  • Abdul Karim
  • Dakwah

Tidak sedikit orang yang memiliki semangat beribadah luar biasa. Mereka rajin mengikuti pengajian, gemar bersedekah, senang berpuasa sunah, dan berusaha memperbanyak amal. Semangat seperti ini tentu patut disyukuri. Namun, semangat saja tidak cukup. Ibadah harus berjalan di atas ilmu.

Islam mengajarkan bahwa ilmu adalah penuntun amal. Tanpa ilmu, seseorang dapat bersungguh-sungguh melakukan sesuatu yang ia yakini baik, padahal yang dikerjakannya justru tidak sesuai dengan skala prioritas yang diajarkan syariat.

Fenomena seperti ini sering kita jumpai. Ada yang begitu bersemangat melaksanakan ibadah sunah, tetapi masih meremehkan salat wajib berjamaah atau bahkan lalai melaksanakan salat tepat waktu. Padahal dalam kaidah syariat, yang wajib selalu lebih didahulukan daripada yang sunah. Ibadah sunah berfungsi menyempurnakan ibadah wajib, bukan menggantikannya.

Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din mengatakan bahwa ibadah tanpa ilmu sering kali tidak mengantarkan seseorang kepada kedekatan dengan Allah, bahkan dapat menjadi sebab kesalahan dalam beragama.

Al-Ghazali menulis bahwa "Ilmu adalah pemimpin, sedangkan amal adalah pengikutnya." Maknanya, amal tidak boleh berjalan mendahului ilmu. Orang yang rajin beramal tetapi tidak memahami ilmunya berisiko salah arah.

Dalam Ihya' Ulum al-Din, Al-Ghazali menjelaskan bahwa setan tidak selalu mengajak manusia meninggalkan ibadah. Sering kali setan justru mengarahkan seseorang kepada ibadah yang kurang utama, sehingga ia lalai terhadap kewajiban atau amal yang lebih besar manfaatnya.

Itulah inti dari tausiah KH SHihabuddin, Lc dalam Majlis Taklim Langgar Al Munawarah RT 02/04 Kompleks Palapa - Mentaos Banjarbaru, Senin 29 Juni 2026.