Trotoar bukan untuk parkir kendaraan

  • Dec 19, 2024
  • Abdul Karim
  • Literasi

Mentaos-Tangguh (17/12/24). Trotoar adalah bagian sangat penting dalam suatu kota. Multifungsi trotoar sebagai unsur keindahan, kenyamanan, keamanan, dan keramahan, termasuk keramahan terhadap penyandang disabilitas tunanetra menjadikan trotoar sebagai agenda utama pembangunan kota. Bila kita berjalan-jalan di Jl. HM Thamrin Jakarta, Jalan Dago di Bandung, atau Jalan Darmo di Surabaya, dapat kita rasakan bagaimana trotoar  yang indah, bersih dan asri itu membuat hati tenang. Trotoar yang baik memotivasi orang untuk mau berjalan kaki sehingga kepadatan kendaraan jadi berkurang, udara menjadi bersih, lalu lintas lancar, dan ekonomi akan tumbuh.  Satu aspek trotoar di satu kota besar berimplikasi kepada ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

Banjarbaru termasuk kota yang sudah dan akan terus membernahi trotoar. Contoh di sepanjang jalan Panglima Batur. Trotoar dibangun dengan ukuran lebar yang cukup. Tersedia guiding block sebagai pemandu disabilitas tunanetra, tersedia portal untuk mencegah pemotor liar naik trotoar, tersedia kursi/bangku untuk pejalan kaki beristirahat. Kelengkapan unsur trotoar modern itu dipercantik dengan hadirnya lampu-lampu bercahaya lembut. Di median jalan ditanami bunga-bunga indah berseri. Pepohonan yang rindang dan kebersihan yang sangat terjaga membuat jalan Panglima Batur semakin langkar.

 

Ke depan masih ada pekerjaan rumah. Dari aspek fisik, mungkin suatu saat ini jalur ini akan terbebas dari silang singkarut kabel listrik dan telepon.  Dari aspek fungsional akan tumbuh kesadaran warga kota bahwa trotoar bukan untuk parkir kendaraan melainkan untuk pedestrian (pejalan kaki). Juga, kursi/bangku yang disediakan bukan untuk keperluan lain selain tempat istirahat sejenak. Untuk itu semua perlu partisipasi masyarakat untuk menjaga dan memelihara agar terus berkelanjutan. (BKa)