Bingung dengan sampah, sudah gak zaman

  • Dec 12, 2025
  • Abdul Karim
  • Literasi

Mentaos-Tangguh (12/12/25)  Sampah sisa makanan atau food waste menjadi salah satu penyumbang terbesar volume sampah rumah tangga di Indonesia. Setiap hari, nasi, sayur, dan sisa lauk menumpuk di tempat sampah dan akhirnya menimbulkan bau, menarik lalat, serta meningkatkan emisi gas metana jika dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Padahal, dengan sedikit kreativitas, sisa makanan dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk tanaman di sekitar rumah.

Adalah Heri Susanto, ST,  Kepala Bidang Wilayah II Kalsel-Kalteng, Pusdal Lingkungan Hidup, KLH/BPLH yang membawa kabar baik bagi warga di RT 03/RW V Kelurahan Mentaos khususnya  yang peduli pada sampah sisa dapur. Pusdal LH punya program memasyarakatkan komposter yang terbuat dari pipa paralon yang dikenal dengan nama Losida sebagai alat pengolah sisa makanan menjadi pupuk organik.   

Losida terbuat dari pipa paralon diameter 4 dan 6 inci sepanjang ±1 meter. Bagian bawah pipa berdiameter 4 inci ditutup dengan penutup pipa yang diberi beberapa lobang kecil yang fungsinya menyalurkan air sedangkan pipa bagian atas juga ditutup agar tidak dimasuki binatang seperti tikus. Pipa yang berdiameter 4 inci diberi lubang-lubang kecil di sisi pipa (jarak antar lubang ±10 cm) sebagai ventilasi udara.

Pipa yang berdiameter 4 inci dimasukan ke pipa yang berukuran 6 inci, ditanam sekitar 30 cm ke dalam tanah. Sisa makanan seperti nasi, sayur, ikan, tulang ikan, kulit buah-buahan, kulit telur dimasukan ke dalam pipa tersebut.

Sampah akan berproses. Airnya meresap ke dalam tanah dan membuat subur tanah sekitarnya. Sedangkan sampah yang tertinggal akan menjadi tanah pupuk yang dapat digunakan  untuk pupuk tanaman lainnya. Menurut Pak Heri, proses tersebut memakan waktu sekitar 2 bulan karena berlangsung secara alami. Namun apabila diberi unsur lain misalnya EM4 proses sampah menjadi pupuk organik itu bisa lebih cepat lagi. Perlu diperhatikan agar jangan  memasukkan bahan anorganik  seperti plastik karena plastik dapat diurai dalam waktu sekitar 100 tahun. 

Manfaat yang dirasakan dari inovasi ramah lingkungan ini antara lain  mengurangi volume sampah organik, menghasilkan pupuk alami tanpa biaya tambahan, dan meningkatkan kesadaran lingkungan dalam keluarga. Hikmahnya, menurut Pak Heri akan tumbuh kesadaran  untuk berhemat ketika menyaksikan banyaknya sisa nasi atau sisa sayur yang dibuang ke komposter.

Pengelolaan sampah organik ini apabila dapat berjalan masif di kota Banjarbaru bisa menjadi gerakan ekologis mandiri. Program ini juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan RT dan  sekolah. “Tahun 2026 nanti di Kota Banjarbaru rencananya disediakan sekitar 4 ribu komposter. Untuk 2025 hingga Desember ini terrealisasi sekitar 400 buah", ujar Heri Susanto.

Pak Heri menambahkan, di setiap komposter  yang dibagikan oleh Pusdal LH diberi barcode dan nomor pengelola. Barcode yang discan akan menampilkan google sheet yang berfungsi sebagai laporan pemilik komposter, berapa berat sampah yang dimasukkan ke komposter pada hari itu. Report itu akan menjadi catatan nasional.

Muchtar Effendi warga Mentaos mendengar kabar adanya komposter gratis ini sangat senang karena akan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh sampah organik seperti bau busuk dan mengundang kehadiran lalat.

Zaenal Ketua RT 03/RW V Kelurahan Mentaos mengucapkan terima kasih kepada Pusdal LH atas terselenggaranya sosialisasi di RT 023/05. Ibu-ibu yang hadir cukup banyak dan sangat antusias. Pada kesempatan itu, Kepala Bidang Wilayah II Heri Susanto menyerahkan komposter sebanyak 50 (lima puluh) unit untuk warga RT 03/V. Bagi RT lain yang membutuhkan dapat lapor ke Pusdal LH. Acara ditutup dengan penanaman komposter di depan rumah Ketua RT 03/V sebagai pilot projek atau percontohan. 

Dengan sedikit kreativitas dan kepedulian, sisa makanan bukan lagi masalah, melainkan sumber kehidupan baru bagi bumi.

Keterangan foto : (atas) Ketua RW V M. Yusran menerima komposter dari Heri Susanto, ST. (bawah) Contoh penempatan komposter (foto Abdul Karim)