Kekufuran yang Disembunyikan di Balik Penampilan Keimanan

  • Jul 10, 2026
  • Abdul Karim
  • Dakwah

Istilah zindiq sering terdengar dalam sejarah Islam, namun tidak sedikit yang memahaminya secara keliru. Bahkan, dalam perdebatan sehari-hari, seseorang terkadang dengan mudah melabeli orang lain sebagai zindiq hanya karena berbeda pandangan. Padahal, para ulama telah menjelaskan bahwa zindiq bukan sekadar orang yang berbuat dosa atau memiliki pendapat yang keliru.

Secara umum, zindiq adalah orang yang menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Dalam sejarah, istilah ini mula-mula digunakan terhadap penganut ajaran dualisme Persia yang berpura-pura memeluk Islam. Seiring perkembangan zaman, maknanya meluas kepada orang yang secara lahiriah mengaku sebagai muslim, namun secara sadar berusaha merusak ajaran Islam dari dalam melalui pemikiran, ucapan, atau perbuatannya.

Al-Qur'an telah mengingatkan adanya kelompok yang berpura-pura beriman, sementara hati mereka dipenuhi keraguan dan penolakan terhadap kebenaran. Fenomena inilah yang menjadi salah satu sumber kewaspadaan umat. Ancaman terbesar sering kali bukan datang dari musuh yang tampak jelas, melainkan dari mereka yang mengenakan pakaian persahabatan tetapi membawa agenda yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Di era digital, bentuk-bentuk kezindikan dapat tampil lebih halus. Informasi yang tampak ilmiah dapat digunakan untuk menanamkan keraguan terhadap Al-Qur'an, meremehkan sunnah Nabi, atau mengaburkan batas antara kebenaran dan kebatilan. Melalui media sosial, video pendek, bahkan bantuan kecerdasan artifisial, sebuah gagasan dapat tersebar sangat cepat sehingga orang yang minim ilmu agama mudah terpengaruh tanpa menyadarinya.

Demikian intisari dari tausiah Ustadz KH Shihabuddin, Lc di majlis taklim Langgar Al Munawarah Kompleks Palapa (RT 02/04) Kelurahan Mentaos Banjarbaru, Senin 6 Juli 2026 ba'da shalat Maghrib.  Semoga bermanfaat