Car Free Day: Antara Ruang Sehat, Ekonomi Rakyat, dan Pergeseran Makna Sosial

  • Apr 04, 2026
  • Abdul Karim
  • Opini Redaksi

Editorial KIM Tangguh

Car Free Day (CFD) pada awalnya dirancang sebagai ruang publik yang sederhana namun mulia, menghadirkan udara yang lebih bersih, memberi tempat bagi warga untuk berolahraga, serta mengurangi dominasi kendaraan bermotor di ruang kota. Namun dalam praktiknya, CFD berkembang menjadi fenomena sosial yang jauh lebih kompleks, bahkan memunculkan pertanyaan kritis apakah tujuan awalnya masih terjaga, atau justru telah bergeser?

Dalam perspektif Semiotika sebagaimana dikembangkan oleh Roland Barthes, CFD tidak hanya bisa dilihat sebagai kegiatan fisik, tetapi juga sebagai “tanda sosial” yang mengalami pemaknaan ulang. Apa yang semula dimaksudkan sebagai ruang sehat, kini dimaknai juga sebagai ruang ekonomi, ruang hiburan, bahkan ruang gaya hidup.

Tidak dapat dipungkiri, CFD telah menjadi denyut ekonomi mikro yang sangat terasa. Para pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga warga biasa memanfaatkan momentum ini untuk berdagang. Dalam beberapa jam saja, perputaran uang terjadi cukup signifikan. Bagi sebagian masyarakat, CFD bukan lagi sekadar tempat berolahraga, melainkan “hari panen” mingguan. Ini adalah sisi positif yang harus diakui. CFD membuka akses ekonomi yang inklusif, tanpa sekat, dan relatif tanpa biaya besar. Namun di sinilah dilema mulai muncul. Ketika jumlah pedagang terus bertambah tanpa pengaturan yang baik, ruang yang seharusnya menjadi tempat bergerak justru menjadi sesak. Aktivitas ekonomi yang semula menjadi pelengkap, perlahan berubah menjadi dominan.

Di satu sisi, CFD memberikan kenyamanan luar biasa di area yang ditutup. Warga dapat berjalan kaki, bersepeda, dan beraktivitas tanpa gangguan kendaraan. Namun di sisi lain, kemacetan seringkali berpindah ke ruas jalan lain. Ini menunjukkan bahwa solusi yang diberikan belum sepenuhnya komprehensif. Kenyamanan menjadi relatif, hadir di satu titik, tetapi berkurang di titik lainnya.

CFD yang semula inklusif kini menghadapi dinamika sosial baru. Kepadatan pedagang, persaingan ruang, hingga potensi konflik kecil antar pengguna menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan. Lebih dari itu, muncul gejala komersialisasi ruang publik. Jalan yang seharusnya menjadi ruang bersama, perlahan berubah menjadi ruang transaksi. Ini bukan semata kesalahan masyarakat, tetapi cerminan kebutuhan ekonomi yang belum sepenuhnya terfasilitasi secara formal.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, CFD tetap memiliki kekuatan besar sebagai ruang silaturahmi. Warga bertemu tanpa sekat, komunitas tumbuh, interaksi sosial menguat. Bagi komunitas seperti KIM maupun komunitas lainnya, CFD adalah ruang strategis untuk menyampaikan pesan-pesan publik,  literasi digital, kesehatan, anti hoaks, hingga edukasi lingkungan. Di sinilah CFD menunjukkan wajah terbaiknya sebagai ruang sosial yang hidup dan dinamis.

CFD juga menjelma menjadi pusat wisata kuliner rakyat. Aneka makanan hadir, dari tradisional hingga kekinian. Ini memperkaya pengalaman warga sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Namun, di balik itu, muncul persoalan klasik: sampah, kebersihan, dan keamanan pangan. Tanpa pengelolaan yang baik, daya tarik ini justru bisa menurunkan kualitas lingkungan CFD itu sendiri.

Dari teori komunikasi, yang digagas Roland Barthes, Car Free Day tak pelak mulai menggeser makna dari sehat  ke konsumtif. CFD tidak lagi sekadar dimaknai sebagai ruang sehat, tetapi juga sebagai ruang konsumsi dan hiburan. Masyarakat melihat CFD sebagai simbol gaya hidup sehat, padahal aktivitas yang dominan seringkali justru berjalan-jalan, berbelanja, dan makan. Inilah yang oleh Roland Barthes disebut sebagai “mitos”, sesuatu yang tampak alami, tetapi sebenarnya merupakan konstruksi sosial.

Bagaimanapun CFD tidak harus kembali ke bentuk awal yang steril tanpa aktivitas ekonomi. Namun, yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Pemerintah dan masyarakat perlu bersama-sama Menata zonasi antara area olahraga dan area perdagangan, Membatasi kepadatan pedagang agar ruang tetap nyaman, Menjaga kebersihan dan ketertiban, Mengembalikan kesadaran bahwa kesehatan adalah tujuan utama. Itulah barangkali yang melatarbelakangi mengapa lokasi CFD Kota Banjarbaru bergeser dari Lapangan Dr Murjani ke lintasan Jalan Panglima Batur. Perubahan ini tentu dimaksudkan untuk kebaikan bagi sebanyak-banyaknya orang. Jangan sampai pergeseran lokasi ini hanya menghasilkan pergeseran masalah sosial yang akan dihadapi warga kiri kanan Panglima Batur sepanjang 1,7 kilometer.

Akhirnya Car Free Day adalah cermin kota. Ia menunjukkan bagaimana kita memaknai ruang publik, apakah sebagai ruang sehat, ruang ekonomi, atau sekadar ruang hiburan. Tantangannya bukan memilih salah satu, tetapi menjaga keseimbangan di antara semuanya. Karena pada akhirnya, kualitas sebuah kota tidak hanya diukur dari ramainya aktivitas, tetapi dari seberapa nyaman dan bermaknanya ruang publik bagi seluruh warganya.