Editorial KIM Tangguh : Antara Optimisme Perubahan dan Tantangan Nyata di Lapangan
- Apr 10, 2026
- Abdul Karim
- Opini Redaksi
Mentaos-Tangguh (10/4/26) Kunjungan Hanif Faisol Nurofiq ke Kota Banjarbaru membawa pesan yang tegas tidak ada waktu lagi untuk menunda perubahan sistem pengelolaan sampah. Bersama Erna Lisa Halaby, Menteri Lingkungan Hidup turun langsung ke lingkungan warga di Kelurahan Guntung Paikat, menyaksikan praktik pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Langkah ini patut diapresiasi. Pemerintah pusat tidak hanya berbicara di balik meja, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat. Bantuan sarana seperti Losida, drum drop point, dan ember Sampah Organik Dapur (SOD) menjadi bukti bahwa ada upaya konkret untuk mendorong perubahan dari hulu, yakni rumah tangga.
Pernyataan Menteri bahwa Banjarbaru “mudah dimanajemeni” dan harus segera meraih Adipura 2026 menunjukkan optimisme tinggi. Bahkan dengan nada tegas, target itu disampaikan sebagai sesuatu yang “harus” dicapai.
Tetapi di lapangan, pengelolaan sampah tidak sesederhana mengubah perintah menjadi tindakan. Mengubah budaya “membuang” menjadi “memilah” membutuhkan revolusi berfikir yang radikal. Perubahan yang dideterminasi oleh kebijakan pemerintah harus dibarengi dengan fasilitasi dengan berbagai infrastruktur dan incentif supaya warga termotivasi untuk berubah.
Masyarakat bisa saja mulai memilah sampah. Namun proses berikutnya harus linear agar tidak stagnasi. Apakah sistem pengolahan sampah organik sudah tersedia, apakah bank sampah untuk menampung sampah unorganis cukup available dalam radius terjangkau. :
Jika pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab secara sistemik, maka perubahan berpotensi berhenti di level simbolik.
Untungnya, sejauh aksi Pemerintah yang kasat mata, menetapkan kelurahan percontohan, adanya distribusi ratusan unit Losida, drum, dan ember SOD, mendorong berdirinya bank sampah dengan incentif untuk petugasnya adalah sejumlah langkah untuk memulai.
Belajar dari sejumlah pengalaman khususnya di kawasan Kelurahan Mentaos masih dapat disaksikan jejak alam keberadaan sejumlah tong biru yang terbengkalai akan menjadi lesson learned yang sangat baik yang tidak boleh terulang kembali.
Pendampingan, Pengawasan dan Pembinaan yang berkelanjutan dan terintegrasi oleh aparat Pemerintah sampai lini terdepan adalah tiga hal yang wajib dilakukan guna mengawal proses perubahan kultur pengelolaan sampah. Itu salah satu kunci yang akan menentukan apakah program kelola sampah mandiri di Banjarbaru hanya sekedar eforia karena telah dikunjungi Menteri Lingkungan Hidup ataukah akan menjadi starting point terbentuknya budaya ekologi yang modern di Kota Banjarbaru Emas.
Keterangan Foto : Kunjungan KDLH Kota Banjarbaru Santy Eka ke Bank Sampah KAMI Mentaos