Mengapa Anak Perlu Dibatasi dalam Menggunakan Media Sosial?

  • Mar 28, 2026
  • Abdul Karim
  • Opini Redaksi

Oleh : Elisabet Kung *)

Di era digital saat ini, penggunaan media sosial menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Hampir semua kalangan terhubung dengan dunia digital, termasuk anak-anak yang pada dasarnya masih berada dalam tahap perkembangan dan sangat rentan terhadap berbagai pengaruh.

Anak-anak belum memiliki kemampuan yang cukup untuk menyaring informasi secara kritis. Mereka dengan mudah terpapar berbagai konten, baik yang positif maupun negatif, tanpa mampu membedakan mana yang layak dan mana yang belum pantas untuk dikonsumsi. Informasi yang tidak tersaring, termasuk berita yang tidak akurat, konten kekerasan, maupun bahasa yang tidak santun, dapat secara perlahan membentuk pola pikir dan perilaku mereka.

Tidak jarang, perubahan perilaku anak dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat setiap hari di media sosial. Anak yang sebelumnya ceria bisa menjadi lebih tertutup, kurang peduli terhadap lingkungan sekitar, mudah marah (tantrum), hingga meniru penggunaan kata-kata yang tidak pantas. Perubahan-perubahan ini tentu berdampak serius terhadap pembentukan karakter anak di masa depan.

Namun demikian, membatasi bukan berarti melarang sepenuhnya. Menghindarkan anak dari dunia digital sama sekali juga bukan solusi yang bijak, mengingat teknologi merupakan bagian penting dari perkembangan zaman. Anak tetap perlu mengenal teknologi agar mampu beradaptasi dengan kehidupan modern.

Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting. Pendampingan aktif diperlukan untuk memastikan bahwa anak mengakses konten yang sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Orang tua harus hadir sebagai filter utama, membantu anak memahami mana yang baik dan mana yang tidak. Pendampingan ini sebaiknya dilakukan secara konsisten, mulai dari usia dini hingga anak memasuki fase remaja, sampai mereka dinilai cukup matang untuk mengambil keputusan sendiri.

Selain itu, tanggung jawab ini tidak hanya berada di pundak keluarga. Masyarakat dan pemerintah juga memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem digital yang aman dan ramah anak. Regulasi, edukasi literasi digital, serta pengawasan terhadap konten menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan generasi muda.

Pada akhirnya, anak-anak adalah aset bangsa. Apa yang mereka konsumsi hari ini akan membentuk siapa mereka di masa depan. Oleh karena itu, pembatasan penggunaan media sosial bukanlah bentuk pengekangan, melainkan upaya perlindungan demi menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

*) Penulis adalah Jurnalis KIM Tangguh, Terafist, Sekretaris Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia DPC Banjarbaru