Refleksi Hari Anak Nasional 2025
- Jul 25, 2025
- Abdul Karim
- Aspirasi
Anak dalam Kepungan Bahaya Digital: Tanggung Jawab Siapa?
by : Fachrur Rozy *)
Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah momen penting untuk bercermin: sejauh mana bangsa ini sungguh-sungguh melindungi anak-anaknya? Tahun 2025 memberikan catatan tegas bahwa tantangan perlindungan anak tidak hanya berada di dunia nyata, tetapi kini justru makin mengkhawatirkan di dunia maya. Ruang digital—yang semestinya menjadi sarana edukasi dan kreativitas anak—telah menjadi ladang baru bagi predator, pelaku eksploitasi, dan perundungan.
Refleksi ini menggugah kita semua: bahwa anak-anak Indonesia kini hidup dalam kepungan bahaya digital. Data dari ECPAT Indonesia dan lembaga internasional menunjukkan peningkatan signifikan konten kekerasan seksual anak yang tersimpan di server Indonesia, menjadikan negeri ini sebagai salah satu tempat paling rawan bagi kejahatan seksual daring terhadap anak. Tidak hanya itu, praktik grooming online melalui gim dan media sosial, serta penyebaran konten melalui platform berbayar, memperlihatkan bagaimana kompleksnya modus-modus baru yang mengeksploitasi kepolosan anak-anak.
Rendahnya literasi digital di kalangan anak dan orangtua menjadi celah besar yang dimanfaatkan pelaku. Kesenjangan pemahaman ini adalah alarm keras bagi kita untuk segera mengubah pendekatan perlindungan anak. Pendekatan protektif saja tidak cukup. Kita harus bergerak ke arah pemberdayaan digital anak: menjadikan mereka warga digital yang sadar risiko, cakap teknologi, dan berani berkata “tidak” terhadap ancaman tersembunyi.
Refleksi ini juga mengetuk hati negara dan para pemangku kebijakan. Perlindungan anak di era digital tidak bisa lagi bersifat reaktif dan parsial. Diperlukan regulasi yang adaptif, penegakan hukum yang sigap, serta kolaborasi lintas sektor, termasuk platform digital global. Tak kalah penting, kampanye nasional harus diperkuat untuk menanamkan budaya lapor yang aman dan tidak menghakimi.
Anak-anak bukan sekadar korban yang perlu dilindungi, mereka adalah generasi yang perlu dipersiapkan. Hari Anak Nasional tahun ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar perayaan. Mari hadir sebagai negara, sebagai orangtua, sebagai pendidik, dan sebagai komunitas yang benar-benar berpihak pada keselamatan dan masa depan anak—baik di dunia nyata, maupun di dunia digital.(FR)
*) Penulis adalah pemerhati sosial politik tinggal di Banjarmasin