Refleksi Hari Pendidikan
- May 06, 2025
- Abdul Karim
- Aspirasi
Pendidikan yang Memanusiakan Manusia
oleh : Ir. Fachrur Rozy *)
Munif Chatib dalam bukunya Kelasnya Manusia (2009) mengajak kita merenung: sekolah bukanlah sekadar tempat untuk menjejalkan pengetahuan, melainkan medan suci untuk memanusiakan manusia. Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang melihat setiap peserta didik sebagai pribadi unik, bukan sebagai angka statistik atau nilai di atas kertas ujian.
Setiap anak memiliki "kelasnya" sendiri. Ada anak-anak yang cemerlang dalam logika matematika, ada yang bersinar dalam bahasa, ada yang berkilau dalam seni, olahraga, atau sosial-emosional. Sistem pendidikan yang hanya mengukur kesuksesan berdasarkan satu standar tunggal — kecerdasan kognitif semata — berarti telah gagal memahami esensi kemanusiaan. Ia membuat banyak anak merasa "tidak pintar", hanya karena mereka berbeda dari pola baku yang sempit.
Refleksi ini menggugah kita: betapa seringnya kita — baik sebagai guru, orangtua, bahkan masyarakat — lebih sibuk memoles nilai ujian daripada membina karakter. Kita lebih berbangga dengan rapor berisi angka tinggi daripada mendidik kejujuran, kepedulian, dan ketangguhan. Padahal, dunia masa depan bukan hanya memerlukan orang-orang cerdas, tapi juga manusia-manusia berhati nurani.
Munif Chatib mengajarkan bahwa guru sejati adalah mereka yang mau turun dari podium kekuasaan intelektualnya dan hadir sebagai sahabat perjalanan para murid. Guru sejati mengajak, bukan memaksa; membimbing, bukan menghakimi.
Maka, pendidikan sejati adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Ia merawat keunikan, menumbuhkan potensi, dan membentuk karakter. Di dunia yang semakin robotik ini, justru tugas pendidikanlah untuk memastikan bahwa manusia tetap menjadi manusia — bukan sekadar mesin berpikir tanpa jiwa.
Dalam dunia di mana ijazah, nilai, dan gelar seringkali lebih dihargai daripada kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab, gagasan Munif Chatib ini adalah lentera yang harus terus kita pegang. Bahwa tugas kita bukan hanya mengajar anak-anak untuk pintar, tetapi mendidik mereka agar menjadi manusia yang utuh: berilmu, beriman, berkarakter, dan bermartabat.(FR)
Penulis : Pengamat sosial/politik tinggal di Banjarmasin