Stop sharing informasi junk
- Sep 04, 2025
- Abdul Karim
- Opini Redaksi
Mentaos-Tangguh (4/9/25) Maraknya aksi mahasiswa berdemonstrasi di berbagai kota direaksi dengan beragam sikap. Ada pihak yang meminta agar aksi demo tersebut tidak di-live share melalui platform media sosial. Namun banyak kalangan menolak himbauan itu karena dinilai menghambat kebebasan berekspresi.
Terlepas dari pro kontra itu, ada juga pihak yang melihat hikmahnya. Selektif dalam menyebar info adalah sikap yang bijak. Manfaat mudharatnya harus benar-benar diperhitungkan. Karena setiap informasi yang terlanjur beredar dapat dimaknai dengan berbagai sudut pandang oleh masyarakat yang majemuk. Sesuai teori peluru (bullet theory) dalam ilmu komunikasi, maka pesan yang terlanjur dilontarkan ke publik tidak akan dapat ditarik lagi. Meskipun ada ralat, permohonan maaf atau bahkan take down atas informasi tersebut, tetapi saja meninggalkan bekas di masuyarakat.
Bijak dalam ber-socmed itu pada dasarnya dibutuhkan setiap saat, tidak hanya ketika ada aksi demonstrasi. Mengapa demikian?.... karena di zaman hyper informasi ini, hampir setiap detik informasi terbaru beredar dan masuk ke grup-grup tanpa pilih kasih. Maka banyak orang yang menjadi kelimpungan dalam memilah dan memilih informasi yang masuk. Banyak keluh kesah anggota grup akibat banyaknya informasi tidak relevan yang memasuki smart phonenya. Tidak sedikit pula grup yang bubar, atau setidaknya ditinggalkan membernya akibat info yang masuk adalah sampah tak berguna.
Dibutuhkan kesadaran kita semua agar hal itu tidak menimpa grup dimana kita menjadi anggota. Setidaknya tiap individu punya sikap untuk tidak menjadi pengedar info sampah yang unfaedah. Apabila hal itu dapat diwujudkan maka grup-grup diskusi akan dimurnikan kembali, dan kita akan bersemangat lagi menjadi anggota grup.
Saring sebelum sharing adalah langkah yang menunjukan kedewasaan seseorang yang aktif di media sosial
Redaksi