Tragedi Nasi Padang

  • Jun 10, 2026
  • Abdul Karim
  • Mentaosiana

Saya memelihara sekitar 250 ekor lele di sebuah kolam sederhana berukuran 2 meter x 3 meter dengan kedalaman sekitar 80 cm. Usia mereka sudah tiga bulan. Sehari-hari kehidupan berjalan harmonis. Saya rutin memberi pakan pelet merek Bama. Para lele tampak sehat, lincah, dan penuh semangat menatap masa depan.

Hubungan kami sangat baik.

Begitu saya datang membawa pelet, mereka langsung berenang ke permukaan. Saya merasa seperti seorang raja yang dicintai rakyatnya. Mereka membuka mulut lebar-lebar seolah berkata: "Wahai Paduka, terima kasih atas subsidi pangan hari ini."

Namun semuanya berubah setelah Hari Raya Idul Adha.

Sebagaimana lazimnya setelah lebaran, stok makanan di rumah melimpah. Ada nasi sisa, lauk sisa, dan berbagai makanan yang mulai kehilangan daya tariknya bagi manusia. Suatu hari saya berpikir cemerlang. "Kalau lele suka pelet, mungkin mereka juga suka nasi." Maka saya lemparkan sisa nasi ke kolam. Hasilnya luar biasa.

Para lele menyerbu nasi tersebut dengan antusias. Mereka berebut seperti warga yang sedang mendapatkan sembako gratis. Saya senang. Dalam hati saya berkata:

"Ternyata selama ini mereka bosan makan pelet. Mereka juga butuh variasi menu."

Keesokan harinya saya menemukan dua bungkus nasi Padang yang sudah mulai basi. Isinya lengkap: nasi, kuah rendang, sambal hijau, dan berbagai rempah pilihan khas Minangkabau.

Sebagai orang yang tidak suka membuang makanan, saya kembali mendapat ide brilian. "Kalau kemarin nasi putih sukses, hari ini kita naik kelas. Kita beri menu premium."

Maka dua bungkus nasi Padang itu saya sebarkan merata ke seluruh kolam. Hari itu para lele berpesta. Melupakan mertua.

Ada yang mungkin baru pertama kali dalam hidupnya mencicipi rendang. Ada yang mungkin berbisik kepada temannya: "Bro, ternyata dunia di atas sana luar biasa. Selama ini kita cuma makan pelet." Saya pun merasa bangga telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat lele.

Tetapi rupanya para lele tidak membaca buku gizi perikanan. Tiga hari kemudian bencana mulai datang.

Satu ekor mengambang. Lalu lima ekor. Lalu puluhan. Kemudian ratusan. Dalam waktu kurang dari seminggu terjadi tragedi kemanusiaan—atau lebih tepatnya tragedi kelelean. Sekitar 200 ekor lele meregang nyawa.

Mereka terkulai di permukaan air dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Sebagian yang masih hidup jadi penyintas, bahkan terlihat memakan rekan-rekan mereka yang telah wafat. Di situ saya sadar bahwa solidaritas lele ternyata memiliki batas tertentu.

Sebagai peternak yang panik, saya segera memeriksa kolam. Padahal kolam sudah dilengkapi aerator yang bekerja siang malam. Oksigen tersedia. Air masih ada. Infrastruktur memadai.

Tetapi rupanya aerator tidak dirancang untuk menetralisir kuah rendang, santan, minyak, cabai hijau, dan berbagai rempah yang mungkin sedang melakukan revolusi biologis di dasar kolam.

Saya membayangkan para ahli lingkungan jika melihat kondisi tersebut. Mungkin mereka akan menyebutnya: "Pencemaran perairan akibat kebijakan diversifikasi pangan yang tidak terukur."

Sementara para lele yang selamat kemungkinan memiliki versi cerita sendiri. "Kami meminta variasi menu, bukan program makan bergizi rendang setiap hari."

Dari peristiwa ini saya memperoleh pelajaran penting. Pertama, tidak semua makanan manusia cocok untuk ikan. Kedua, lele memang rakus, tetapi kerelaan mereka memakan sesuatu bukan berarti itu baik bagi kesehatan. Ketiga, ide yang tampak cerdas pada hari Minggu bisa berubah menjadi bencana nasional pada hari Rabu.

Kini populasi kolam saya tinggal sekitar 50 ekor pejuang tangguh yang berhasil bertahan dari Peristiwa Nasi Padang 1447 Hijriah. Mereka adalah generasi yang kuat, tahan banting, dan memiliki pengalaman hidup yang tidak dimiliki lele lain. Setiap kali saya datang membawa pelet, mereka tampak lebih bijaksana. Tidak ada lagi euforia. Tidak ada lagi pesta. Bahkan beberapa hari pasca bencana, pelet yang saya tebar tidak digubris. Kata AI, Kemungkinan besar mereka sedang mengalami Post Rendang Stress Disorder (PRSD).

Setiap kali melihat sesuatu jatuh dari langit, mereka langsung berbisik "Jangan-jangan ini nasi Padang lagi..."

Mungkin dalam hati mereka berkata: "Pak, kami sudah kapok. Cukup pelet saja. Tolong jangan ada rendang lagi." Dan saya pun mengangguk. 

Jangan mencampur keduanya dalam sebuah eksperimen yang melibatkan 250 ekor makhluk hidup yang tidak pernah dimintai persetujuan terlebih dahulu.

Keterangan Foto : Harimau mati meninggalkan belang, lele mati karena nasi padang (generate by AI)