ZAYD BIN HARITSAH, Namanya disebut dalam Al Qur'an

  • Jun 05, 2026
  • Abdul Karim
  • Dakwah

Zaid bin Haritsah (Zayd ibn Harithah) adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memiliki kisah hidup sangat istimewa. Ia dikenal sebagai satu-satunya sahabat yang namanya disebut secara langsung dalam Al-Qur'an.

Zaid bin Haritsah lahir dari keluarga terhormat dari suku Kalb di Jazirah Arab. Ketika masih kecil, ia diculik dalam sebuah penyerangan antarsuku dan kemudian dijual sebagai budak.

Dalam perjalanan nasibnya, Zaid dibeli oleh Khadijah binti Khuwailid. Setelah menikah dengan Muhammad, Khadijah menghadiahkan Zaid kepada Rasulullah SAW.

Beberapa tahun kemudian, keluarga Zaid berhasil mengetahui keberadaannya dan datang ke Makkah untuk menebusnya. Mereka menawarkan harta agar Zaid dapat kembali pulang.

Namun Rasulullah memberikan pilihan yang sangat adil kepada Zaid: pulang bersama keluarganya atau tetap bersamanya.

Di luar dugaan, Zaid berkata bahwa ia memilih tetap bersama Muhammad SAW. Ia telah merasakan kasih sayang, kejujuran, dan akhlak yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Mendengar pilihan itu, Rasulullah kemudian memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak sebelum Islam melarang praktik adopsi yang mengubah nasab.

Sebelum turunnya hukum Islam tentang nasab, masyarakat mengenalnya sebagai Zaid bin Muhammad. Namun kemudian Allah SWT menurunkan firman dalam surah Al-Ahzab ayat 5 "Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan nama bapak-bapak mereka..."
Sejak saat itu beliau kembali dipanggil Zaid bin Haritsah.

Rasulullah pernah menikahkan Zaid dengan Zainab binti Jahsy. Pernikahan ini memiliki hikmah besar untuk menghapus perbedaan status sosial antara bekas budak dan kaum bangsawan Quraisy. Namun rumah tangga mereka tidak bertahan lama dan berakhir dengan perceraian.

Setelah itu Allah memerintahkan Rasulullah menikahi Zainab. Peristiwa ini menjadi bagian penting dalam penegasan hukum Islam bahwa anak angkat tidak sama kedudukannya dengan anak kandung.

Allah berfirman dalam Al Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 37 : "Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab), agar tidak ada keberatan bagi orang-orang mukmin untuk menikahi istri-istri anak-anak angkat mereka apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi."

Zaid termasuk sahabat yang sangat dipercaya Nabi. Ia beberapa kali memimpin pasukan kaum Muslimin. Ketika terjadi Pertempuran Mu'tah, Rasulullah menunjuk Zaid sebagai panglima utama. Jika Zaid gugur, kepemimpinan dilanjutkan oleh Ja'far bin Abi Thalib, dan setelah itu oleh Abdullah bin Rawahah. Dalam pertempuran tersebut, Zaid memegang panji Islam hingga syahid pada tahun 629 M.

Tidak ada sahabat Nabi lain yang disebut namanya secara eksplisit dalam Al-Qur'an.

Kisah Zaid bin Haritsah menunjukkan bahwa seorang anak yang pernah menjadi budak dapat mencapai kedudukan mulia sebagai sahabat utama, panglima perang, dan sosok yang namanya diabadikan dalam Al-Qur'an.

Demikian kisah Zaid bin Haritsah yang diceritahakan KH Shihabuddin Lc pada majlis taklim Langgar Al Munawarah RT 02/RW IV Kompleks Palapa Banjarbaru, Senin 1 Juni 2026