Cegah Sampah Dari Dapur
- Mar 30, 2026
- Abdul Karim
- Lingkungan Hidup
Mentaos-Tangguh (30/03/26) Persoalan sampah, khususnya sampah organik rumah tangga, kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Banjarbaru. Upaya konkret itu terlihat dalam kunjungan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru, Santy Eka Septiani, S.Hut, MS, ke Kelurahan Mentaos, yang secara langsung menyampaikan program strategis pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Belum sebulan dilantik Kadis LH ini sudah tiga kali mengunjungi Mentaos, menunjukan betapa penting dan mendesaknya masalah yang membelit persampahan.
Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan di Bank Sampah KAMI, dan berlangsung selama kurang lebih dua jam dalam suasana yang hangat dan partisipatif. Hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Mentaos, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, Ketua TP PKK Mentaos, para Ketua RT se-Kelurahan Mentaos, serta perwakilan warga dari empat RT di RW IV—yang mayoritas dihadiri oleh ibu-ibu rumah tangga.
Dalam sambutannya, Bu Santy menegaskan bahwa keberhasilan program pengelolaan sampah organik sangat ditentukan oleh peran aktif rumah tangga, khususnya ibu-ibu. Menurutnya, dapur adalah titik awal dari solusi.
“Kalau kita ingin menyelesaikan persoalan sampah, maka harus dimulai dari sumbernya. Dan sumber itu ada di rumah, ada di dapur. Karena itu, keterlibatan ibu rumah tangga menjadi mutlak,” tegasnya.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan limbah dapur lainnya merupakan penyumbang terbesar volume sampah harian. Tanpa pengelolaan sejak awal, sampah ini akan menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), menimbulkan bau, pencemaran, bahkan potensi gangguan kesehatan.
Melalui program ini, masyarakat didorong untuk mulai memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri di rumah. Metode yang ditawarkan pun sederhana dan aplikatif, seperti penggunaan komposter rumah tangga, biopori, hingga pengolahan berbasis maggot. Dengan pendekatan ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna.
Kegiatan ini juga semakin kaya dengan kehadiran tamu spesial, Pak Yoni, Ketua RT 033 dari Kelurahan Syamsudin Noor. Dalam sesi berbagi, beliau memaparkan pengalaman sukses warganya dalam mengelola bank sampah secara konsisten. “Yang terpenting adalah komitmen dan kebiasaan. Tidak bisa instan. Tapi kalau sudah berjalan, manfaatnya luar biasa—lingkungan bersih, warga kompak, bahkan ada nilai ekonomi,” ungkapnya.
Bagi warga Mentaos, kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi, tetapi juga momentum membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Sinergi antara pemerintah, perangkat kelurahan, RT, dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Mengapa Mentaos yang disasar, terpisah bu Santy menjawab pertanyaan jurnalis KIM bahwa lokasi ini diincar karena prestasi Kelurahan Mentaos tahun 2025 lalu menjadi jawara kedua Kelurahan Nasional. Di samping itu, kehadiran bank sampah KAMI yang sudah beraktivitas sekitar 1 tahun terakhir menjadi daya tarik. Kehadiran Bank Sampah dalam eko sistem manajemen sampah memang sangat penting. Lurah Mentaos Ciptadi Sunaryo, SE mengiyakan bahwa Mentaos sudah punya Bank Sampah yang aktif dan siap menjadi perintis atau percontohan pengelolaan sampah organik.
Direktur Bank Sampah KAMI Dr Murjani menyatakan kesiapan bank-nya menjadi mitra Pemerintah Kota dalam menangani sampah organik. "Kami sudah punya rencana, sebelum ada program dari DLH akan membangun teba dan menyediakan komposter sistem ember tumpuk. Namun dengan adanya rencana Pemkot menjadikan Mentaos sebagai pilot project tentu kami lebih bersemangat lagi". Pungkasnya.