Editorial : Lagi Lagi Korupsi Lagi
- Jun 07, 2026
- Abdul Karim
- Opini Redaksi
Berita penangkapan petiggi BGN bikin dada rakyat nyesek. Resah, gelisah. Dan kegelisahan itu menjadi besar karena korupsi terjadi di lingkungan orang-orang yang berada paling dekat dengan pusat kekuasaan. Bukan semata karena nilai kerugian negara yang mungkin besar, melainkan karena publik mulai mempertanyakan: apakah penyimpangan tersebut merupakan tindakan individu, atau gejala adanya kelemahan sistem pengawasan dalam pemerintahan?
Dalam setiap pemerintahan, presiden, perdana menteri, gubernur, atau kepala daerah tidak mungkin bekerja sendirian. Mereka membutuhkan pembantu, penasihat, kepala badan, direktur, dan berbagai pejabat strategis yang menjadi perpanjangan tangan kekuasaan. Karena itulah kualitas pemerintahan sering kali ditentukan bukan hanya oleh kualitas pemimpinnya, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang berada di lingkaran terdekatnya.
Ada paradoks yang menarik dalam ilmu pemerintahan. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar kewenangannya. Namun pada saat yang sama, semakin besar pula tuntutan akuntabilitas yang melekat pada dirinya. Lord Acton pernah mengingatkan "Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kekuasaan cenderung mendorong korupsi, dan kekuasaan yang nyaris tanpa kontrol berpotensi melahirkan korupsi yang lebih besar.
Presiden yang super sibuk tidak mungkin setiap saat mengawasi para pembantu-pembantu ring 1 nya. Kelengahan itu mestinya tidak digunakan untuk merampok. Tidakkah Anda (para maling duit rakyat itu) kasihan kepada presiden. Berbuih-buih mulut beliau meneriakkan anti korupsi, bahkan akan mengejar sampai ke antartika. Tapi apa lacur, Anda yang ada di ketiak presiden berkhianat dengan terang benderang. Boleh jadi rakyat akan meragukan setiap pejabat publik yang saat ini masih petantang petenteng terlihat bersih. Bagaimana tidak, baru beberapa jam mendampingi Presiden memakai baju putih, jam berikutnya ganti dengan rompi pink. Mengerikan sekali bukan?.
Simak puisi Adhie Massardi di bawah ini.
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
Keterangan Foto : Jusuf Muda Dalam, Menteri di zaman orde lama yang dihukum mati karena korupsi (source : https://www.cnbcindonesia.com)