Editorial : TVRI dan Piala Dunia 2026: Momentum Mengembalikan Pemirsa dan Menggerakkan Ekonomi Rakyat

  • Jun 13, 2026
  • Abdul Karim
  • Opini Redaksi

Mentaos-Tangguh (13/6/26) Penunjukan TVRI sebagai official broadcaster Piala Dunia 2026 menjadi peristiwa penting dalam sejarah penyiaran Indonesia. Di tengah dominasi televisi swasta, platform digital, dan layanan streaming, kehadiran TVRI sebagai pemegang hak siar ajang olahraga terbesar dunia membuka peluang untuk mengembalikan perhatian masyarakat kepada televisi publik milik rakyat.

Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ajang ini merupakan peristiwa media global yang mampu menyatukan perhatian jutaan bahkan miliaran penonton secara bersamaan. Karena itu, kepercayaan yang diberikan kepada TVRI memiliki makna strategis bagi penguatan peran lembaga penyiaran publik di era konvergensi teknologi.

Selama beberapa dekade terakhir, peta persaingan penyiaran mengalami perubahan besar. Televisi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi dan hiburan. Masyarakat kini dapat mengakses berbagai konten melalui internet, media sosial, platform streaming, dan perangkat bergerak. Fenomena ini dikenal sebagai konvergensi teknologi, yaitu meleburnya berbagai saluran komunikasi ke dalam ekosistem digital yang saling terhubung.

Dalam konteks tersebut, penayangan Piala Dunia 2026 oleh TVRI menjadi simbol bahwa lembaga penyiaran publik masih memiliki posisi penting dalam lanskap media nasional. TVRI tidak hanya bersaing dengan stasiun televisi swasta, tetapi juga dengan berbagai platform digital global yang kini menjadi sumber konsumsi media masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pemerintah daerah untuk menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) sebagai bagian dari upaya membangun kebersamaan masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Kegiatan nobar dapat menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan warga dari berbagai latar belakang untuk menikmati pertandingan secara bersama-sama.

Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kegiatan nobar menghadirkan peluang ekonomi yang nyata. Kehadiran ratusan bahkan ribuan penonton dalam satu lokasi berpotensi meningkatkan penjualan makanan, minuman, produk kreatif, hingga jasa pendukung lainnya. Dengan demikian, manfaat Piala Dunia tidak hanya dirasakan oleh pecinta sepak bola, tetapi juga oleh pelaku usaha di tingkat lokal.

Pemerintah daerah, komunitas masyarakat, KIM, karang taruna, maupun organisasi kemasyarakatan dapat memanfaatkan momentum ini untuk menyelenggarakan kegiatan yang tertib, aman, dan produktif. Selain menjadi sarana hiburan bersama, nobar juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan, memperluas ruang interaksi sosial, dan mendukung pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Piala Dunia 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara di lapangan hijau. Bagi Indonesia, momentum ini dapat menjadi ajang memperkuat peran TVRI sebagai televisi publik, memperluas literasi penyiaran di era digital, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui partisipasi UMKM di berbagai daerah.

Muchtar Effendi, Ketua RT 03 RW IV mengusulkan kegiatan nobar di halaman Kelurahan Mentaos sebagai respon atas arahan pemerintah dalam upaya membuka peluang kegiatan UMKM. "mungkin KMP Mentaos jadi EO-nya". Kata Pak Muchtar.

Keterangan : foto tangkap layar siaran Jurnal Piala Dunia TVRI, dicapture 13/6/26

KIM Tangguh Mentaos
Menyebar Informasi – Menguatkan Partisipasi