Fire Hydrant, mungil tapi moncer
- Apr 09, 2026
- Abdul Karim
- Info Umum
Mentaos-Tangguh (10/3/26) Di sudut-sudut kota, kita sering melihat hidran berdiri diam, ada yang kinclong, kadang berkarat, ada yang tegas terlihat, ada yang tertutup rumput liar, atau bahkan terhalang kendaraan parkir. Ia hadir, tetapi seolah terlupakan. Padahal, di balik bentuknya yang sederhana, hidran menyimpan satu fungsi vital: menyelamatkan nyawa saat kebakaran terjadi. Pertanyaannya, apakah hidran-hidran itu benar-benar siap digunakan ketika keadaan darurat datang?
Dalam banyak kasus, persoalan bukan pada ketiadaan fasilitas, melainkan pada kualitas pemeliharaan. Hidran mungkin sudah terpasang sesuai perencanaan, tetapi pernahkah diuji tekanan airnya?. Salah satu fire hydrant yang terciduk jurnalis KIM Tangguh ada dalam kondisi malu malu, menutup dirinya dengan bunga telang. Mungkin lama tak dibelai kekasihnya. Di sinilah letak persoalan klasik tata kelola, kita sering berhenti pada pembangunan, tetapi lalai dalam perawatan.
Kehadiran hidran seharusnya menjadi bagian dari sistem besar manajemen risiko kebakaran kota. Namun tanpa pemeliharaan berkala, hidran justru menjadi simbol semu, ada, tetapi tidak berfungsi. Kita harus jujur mengakui, bahwa dalam banyak kasus kebakaran di kawasan padat penduduk, keterlambatan penanganan sering disebabkan oleh sulitnya akses air.
Secara formal, pemeliharaan hidran berada pada pemerintah daerah melalui dinas terkait. Untuk supply air sudah pasti dari PDAM. Namun dalam perspektif KIM (Komunitas Informasi Masyarakat), isu ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga fungsi fire hydrant jangan sampai tertutup atau terhalang oleh sesuatu yang menyulitkan akses, melaporkan jika ada kerusakan, dan menjaga area sekitar agar tetap bersih dan terbuka. Dengan kata lain, hidran adalah titik temu antara tanggung jawab negara dan partisipasi warga.
Kita sering tergerak setelah musibah terjadi. Padahal, keselamatan kota ditentukan oleh kesiapan sebelum bencana datang. Hidran yang terawat adalah bentuk nyata dari budaya siaga, bukan sekadar respons sesaat. Hidran bukan ornamen kota. Ia adalah alat penyelamat. Namun tanpa pemeliharaan, ia hanya akan menjadi simbol kosong di pinggir jalan.
Di wilayah kelurahan Mentaos, berdasarkan pengetahuan Ketua RT terdapat 4 titik hidran yaitu di jL. Oxygen, Jl. Komet Raya/Simpang Jl. Palapa, Jl. Komet Raya, dan Jl. RP Soeparto. Jumlah ini sepertinya kurang memadai untuk wilayah seluas Mentaos. Ketua RT 03/RW 03 Subandi mengusulkan ada penempatan hidran di wilayahnya. Mungkin di beberapa lokasi lain padat penduduk juga perlu hidran. Perlu diingat kebanyakan gagalnya memadamkan api kebakaran secara cepat disebabkan keterbatasan akses terhadap air. Itu artinya berkaitan langsung dengan keberadaan fire hidran.
Ingat, dalam situasi darurat, satu hidran yang berfungsi dengan baik bisa menjadi pembeda antara kerugian besar dan keselamatan banyak nyawa.