Gerak Cepat Kelurahan Mentaos: Dari seremoni ke aksi

  • Apr 11, 2026
  • Abdul Karim
  • Lingkungan Hidup

Mentaos-Tangguh (11/4/26) Langkah cepat yang ditunjukkan oleh Ciptadi Sunaryo, SE Lurah Mentaos - Banjarbaru Utara,  patut menjadi contoh bagaimana sebuah program pemerintah seharusnya dijalankan. Tidak berhenti pada seremoni penerimaan bantuan dari Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq, Kelurahan Mentaos langsung bergerak menindaklanjuti dengan aksi nyata di lapangan.

Bantuan berupa seperangkat komposter sampah organik tidak dibiarkan menjadi simbol semata. Justru sebaliknya, gerak cepat dilakukan untuk memasang lubang-lubang komposter di beberapa titik strategis di wilayah kelurahan. Ini bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi sebuah langkah konkret yang menunjukkan bahwa program benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan.

Seringkali, program pemerintah berhenti pada tahap distribusi bantuan. Foto-foto serah terima menjadi bukti, tetapi implementasi di lapangan berjalan lambat, bahkan tidak berkelanjutan. Namun yang terjadi di Kelurahan Mentaos memberikan pesan berbeda, bahwa keberhasilan program tidak ditentukan oleh siapa yang memberi, tetapi oleh siapa yang mengeksekusi. Di sinilah peran lurah sebagai pejabat terdepan menjadi sangat krusial. Lurah bukan hanya pelaksana administratif, tetapi penggerak perubahan sosial di tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Dalam banyak kebijakan publik, ada satu mata rantai yang sering menjadi titik lemah  tindak lanjut eksekusi. Perencanaan bisa matang, anggaran bisa tersedia, bahkan kebijakan bisa sangat ideal. Tetapi tanpa eksekusi yang cepat dan konsisten, semua itu hanya akan menjadi dokumen.

Langkah cepat pemasangan komposter di Mentaos menunjukkan bahwa Program tidak dibiarkan menunggu, Bantuan tidak dibiarkan mengendap, Dan masyarakat tidak dibiarkan bingung tanpa arah. Ini adalah bentuk kepemimpinan lapangan yang responsif, sesuatu yang sering kita harapkan, tetapi tidak selalu kita temukan. Meski langkah awal sudah tepat, pekerjaan besar masih menunggu di depan. Karena ini baru sebuah awal. Komposter yang terpasang harus digunakan, dipantau konsistensinya dan terintergrasi dengan ekosistem  lainnya sehingga program ini menjadi kerja yang punya martabat ekologis.

Di sinilah pentingnya peran edukasi dan pendampingan. Masyarakat perlu diyakinkan bahwa mengelola sampah organik bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari solusi nyata bagi lingkungan mereka sendiri yang mana itu berarti sebuah kehormatan. Menjawab pertanyaan Jurnalis KIM Tangguh perihal gerak cepat yang dapat dilakukan, dengan rendah hati Ciptadi Sunaryo SE mengatakan bahwa dirinya beruntung karena didukung oleh warga, para Ketua RT dan Ketua RW di Mentaos, khususnya Ketua RW IV Dr. Murjani yang terlibat langsung dalam memberi dukungan kepada program persampahan Pemerintah. 

Jurnalis KIM Tangguh memantau distribusi gorong-gorong tahap pertama sudah terkirim ke 4 RT di RW IV, total ..... titik. Pekerjaan pemasangan sudah rampung 75%. Dr Murjani Direktur Bank Sampah KAMI menyampaikan untuk dapat digunakan sepenuhnya masih menunggu tutup gorong-gorong lobang biopori  yang harus didesain khusus sesuai kebutuhan. Insya Allah minggu depan sudah seleasi" kata Murjani.  Sementara untuk perangkat komposter lainnya segera dibagikan ke warga. Data sudah lengkap berapa yang menggunakan ember tumpuk dan berapa yang menggunakan komposter pipa paralon.

Gerak cepat Lurah Mentaos mengajarkan satu hal penting bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dieksekusi dengan serius. Bila ada sekelumitpesimistik, inilah jawabannya.

Keterangan foto atas : Komposter Tong Biru bantuan Pemerintah / Dinas Lingkungan Hidup
Keterangan foto bawah : Dr. Murjani / Direktur Bank Sampah KAMI  pose di depan Sekretariat Bank Sampah