Gotong Royong Serentak di Mentaos, Warga dan Pemerintah Satukan Langkah Bersihkan Lingkungan
- Apr 12, 2026
- Abdul Karim
- Lingkungan Hidup
Mentaos-Tangguh (12/4/26) Semangat kebersamaan kembali terasa kuat dalam kegiatan gotong royong serentak yang dilaksanakan di Kota Banjarbaru. Di Kelurahan Mentaos, kegiatan ini dipusatkan di RT 02/RW IV, tepatnya di area Kantor Bank Sampah KAMI, yang menjadi salah satu titik penting penguatan gerakan kebersihan lingkungan berbasis masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Camat, Kapolsek, jajaran pejabat kecamatan, aparatur Kelurahan Mentaos, para Ketua RT dan RW se-Kelurahan Mentaos, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta warga RT 02/RW IV yang tampak antusias mengikuti rangkaian acara sejak pagi hari.
Sebelum gotong royong dimulai, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti senam pagi bersama. Suasana akrab dan penuh semangat tampak mewarnai kegiatan ini. Senam bukan sekadar pemanasan, tetapi juga menjadi simbol bahwa membangun lingkungan yang sehat harus dimulai dari tubuh yang sehat, pikiran yang segar, dan kebersamaan yang kuat.
Fokus utama gotong royong kali ini adalah membersihkan lahan kosong yang berada di samping Bank Sampah KAMI. Lahan tersebut direncanakan untuk ditata dan dimanfaatkan menjadi area tanam berbagai tumbuhan bermanfaat, sehingga tidak hanya bersih dari semak dan sampah liar, tetapi juga memiliki nilai guna bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Langkah ini menunjukkan bahwa gotong royong tidak berhenti pada kegiatan membersihkan semata, melainkan juga diarahkan menjadi gerakan nyata untuk menghadirkan ruang yang produktif, hijau, dan bernilai edukatif. Keberadaan lahan yang bersebelahan dengan Bank Sampah KAMI juga menjadi sangat strategis karena dapat memperkuat pesan bahwa pengelolaan lingkungan harus dilakukan secara terpadu: membersihkan, memilah, mengolah, lalu memanfaatkan kembali.
Dalam kesempatan tersebut, Camat menyampaikan bahwa kegiatan gotong royong serentak bukan hanya rutinitas kerja bakti, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antara pemerintah dan warga. Menurutnya, kehadiran aparatur pemerintah di tengah masyarakat penting untuk mempererat komunikasi, membangun kepercayaan, dan memastikan bahwa program-program lingkungan benar-benar dipahami bersama.
Selain itu, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk menyosialisasikan pentingnya pemilahan sampah organik dari rumah tangga. Edukasi semacam ini dinilai sangat penting, karena persoalan sampah tidak mungkin diselesaikan hanya di level akhir. Penyelesaian harus dimulai dari hulunya, yaitu dari rumah tangga sebagai sumber utama timbulan sampah harian.
Sementara itu, Lurah Mentaos, Ciptadi Sunaryo, SE, memperkenalkan sebuah program yang mudah diingat namun sarat makna, yaitu MESRA, singkatan dari Memilah Sampah Organik dari Sumbernya. Program ini menjadi ajakan konkret kepada warga untuk mulai membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah, terutama sampah organik yang selama ini sering tercampur dan akhirnya menambah beban pengelolaan sampah di tingkat kota.
Akronim MESRA terasa tepat, karena persoalan sampah memang harus diselesaikan dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat, mudah dipahami, dan bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memilah sampah organik dari sumbernya, warga bukan hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka peluang agar sampah organik dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti kompos atau media tanam.
Kegiatan gotong royong di RT 02/RW IV ini menjadi contoh bahwa gerakan menjaga lingkungan akan lebih berhasil bila dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah hadir, aparat mendukung, tokoh lingkungan bergerak, dan warga ikut ambil bagian. Inilah wajah pembangunan lingkungan yang sejati: bukan sekadar program di atas kertas, melainkan kerja nyata yang tumbuh dari kolaborasi.
Menurut Lurah Mentaos ajakan masyarakat untuk memilah sampah organik ini didukung dengan penyediaan fasilitas dari Pemerintah antara lain berupa lobang biopori, komposter tong biru yang akan ditempatkan di sekitar pemukiman warga sehingga warga mendapat kemudahan menumpuk sampah organik yang telah dipilah, karena berdekatan dengan rumah. “bahkah kami akan sediakan peralatan berupa ember berpenutup untuk membawa sampah organik dari rumah” Ujar Lurah Mentaos.
Sementara Direktur Bank Sampah KAMI Dr. Murjani menyampaikan bahwa Bank Sampah mendukung sepenuhnya program ini bersama warga. Bank Sampah KAMI menyediakan sebagian fasilitas yang dibutuhkan agar program MESRA ini berjalan lancar dan sukses.
Lebih jauh Lurah Mentaos menjelaskan bahwa hasil gotong royong selain lahan yang bersih adalah sampah organik seperti daun, potongan dahan dan sampah sisa dapur / sisa makanan sebanyak kurang lebih 40 kilogram, sedangkan sampah non organik seperti botol pelastik, kardus sebanyak 20 kilogram. Residu yang terpaksa harus diangkut ke TPS sebanyak kurang lebih 1 (satu) kg. Semua sampah organik diolah di bank sampah dengan cara dimasukkan ke dalam lubang komposter. Adapun sampah non organik di jual ke bank sampah.
Dari Mentaos, pesan itu kembali ditegaskan, lingkungan yang bersih tidak lahir dari imbauan semata, tetapi dari kebiasaan baik yang dibangun terus-menerus. Gotong royong, pemanfaatan lahan kosong, penguatan bank sampah, hingga gerakan MESRA menjadi rangkaian ikhtiar yang patut dijaga bersama. Karena pada akhirnya, kota yang bersih, hijau, dan sehat selalu bermula dari warga yang mau bergerak bersama.
Baca juga : Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby Turun Langsung Pimpin Gerakan Indonesia ASRI di Banjarbaru
Keterangan foto : Lurah Mentaos Ciptadi Sunaryo, SE pimpin apel kesiapan gotong royong serentak di Mentaos - Banjarbaru