Menguasai Fiqih tapi sombong
- Jun 23, 2026
- Abdul Karim
- Dakwah
Dalam kehidupan beragama, sering kali kita menjumpai seseorang yang sangat memahami hukum-hukum ibadah, hafal berbagai ketentuan halal dan haram, bahkan mampu mengoreksi kesalahan orang lain. Namun ironisnya, pemahaman agama yang luas itu tidak selalu diiringi dengan kerendahan hati, kelembutan akhlak, dan kedekatan kepada Allah SWT. Hal ini mengingatkan kita bahwa ilmu agama sesungguhnya bukan hanya fiqih. Para ulama sejak dahulu mengajarkan bahwa ilmu agama merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi, yaitu fiqih, tauhid, dan tasawuf.
Fiqih mengajarkan apa yang benar dan salah dalam perbuatan. Ia membimbing manusia mengenai tata cara ibadah, muamalah, pernikahan, waris, dan berbagai aspek hukum syariat. Tauhid mengajarkan siapa yang disembah. Ia menanamkan keyakinan bahwa hanya Allah SWT yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Menentukan segala sesuatu. Tauhid melahirkan rasa tunduk, takut, dan berharap hanya kepada Allah. Tasawuf mengajarkan bagaimana membersihkan hati. Ia mendidik manusia untuk ikhlas, sabar, tawadhu, bersyukur, dan menjauhi penyakit hati seperti riya, hasad, ujub, dan sombong. Ketiganya ibarat sebuah bangunan. Tauhid adalah fondasinya, fiqih adalah dinding dan strukturnya, sedangkan tasawuf adalah keindahan dan kebersihan ruang di dalamnya. Jika salah satunya hilang, bangunan tersebut tidak akan sempurna.
Seseorang yang hanya mempelajari fiqih tanpa memperdalam tauhid dan tasawuf berisiko terjebak pada sikap merasa paling benar. Ia mengetahui banyak hukum, tetapi lupa bahwa ilmu yang dimilikinya adalah karunia Allah. Ia sibuk menilai kesalahan orang lain, tetapi lalai memeriksa keadaan hatinya sendiri. Imam Malik rahimahullah pernah menegaskan: "Barang siapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf, maka ia bisa menjadi fasik. Barang siapa mempelajari tasawuf tanpa fiqih, maka ia bisa menjadi zindik. Dan barang siapa menggabungkan keduanya, maka ia mencapai kebenaran." Pesan ini menunjukkan pentingnya keseimbangan dalam menuntut ilmu agama. Fiqih menjaga agar ibadah kita benar. Tauhid menjaga agar keyakinan kita lurus. Tasawuf menjaga agar hati kita tetap bersih.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau adalah orang yang paling memahami syariat, paling kuat tauhidnya, sekaligus paling rendah hati. Padahal kedudukan beliau di sisi Allah tidak tertandingi oleh siapa pun. Namun beliau tetap duduk bersama orang miskin, menerima nasihat, memaafkan kesalahan, dan tidak pernah membanggakan diri. Sombong adalah penyakit yang sangat berbahaya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Karena itu, semakin bertambah ilmu seseorang, seharusnya semakin bertambah pula kerendahan hatinya. Semakin banyak ia mengetahui, semakin ia menyadari betapa sedikit ilmu yang dimilikinya dibandingkan ilmu Allah SWT yang tidak terbatas. Belajar agama bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga memperbaiki diri. Jangan sampai ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah justru berubah menjadi sumber kesombongan. Sebab tujuan akhir dari ilmu bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbaiki akhlak kepada sesama manusia.
Demikian intisasi tausiyah KH Shihabuddin, Lc di Langgar Al Munawarah, Kompleks Palapa Mentaos Banjarbaru, Senin 22 Juni 2026, sasala Maghrib dan Isya
Keterangan Foto : KH Shihabuddin, Lc